Tampilkan postingan dengan label skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skripsi. Tampilkan semua postingan

skripsi Matematika

  Penerapan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) dalam Menyelesaikan Soal Cerita Pecahan Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Upaya pemerintah untuk mewujudkan tujuan pendidikan di Indonesia dengan mengadakan pembaharuan sistem pendidikan nasional, diantaranya pembaharuan dan penghapusan desentralisasi pendidikan oleh pemerintah.


Pembaharuan sistem pendidikan nasional dilakukan untuk memperbaharui visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah (UU RI No. 20 Tahun 2003 : 83).

Dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 6 tahun 2006 juga ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (untuk pendidikan dasar).

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran. Sekolah dikharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga atau media lainnya. (Depdiknas, 2006 : 1)

Terkait dengan hal di atas salah satu manfaat dalam mempelajari matematika adalah untuk menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari, atau untuk menyelesaikan permasalahan sehari-hari dengan menggunakan konsep-konsep matematika. Dengan menggunakan simbol dan relasi yang sesuai serta alogaritma tertentu maka permasalahan sehari-hari dari bentuk kalimat verbal ke dalam model matematika serta pemilihan rumus dan prosedur yang sesuai dengan permasalahan perlu ada penekanan dan pelatihan karena penggunaan rumus maupun prosedur tidak tampak secara langsung. (Winarno, 2003 : 1)

Berikut diperoleh data tentang prestasi belajar  matematika siswa kelas V SDN 5 Mataram berdasarkan nilai raport dalam menyelesaikan soal matematika tahun pelajaran 2007/2008 :
Tabel 01 :   Nilai Rata-rata Siswa Kelas  V SDN 5 Mataram Berdasarkan Nilai   Raport Pada Mata Pelajaran Matematika Tahun Pelajaran 2007/2008

Kelas
Nilai rata-rata pada mata pelajaran matematika
V.A
V.B
6,8
6,3
             Sumber :  Daftar Nilai Raport Siswa Kelas V.B Tahun Pelajaran 2007/2008, dikutip tanggal, 15 Januari 2008)

Berdasarkan tabel 01 di atas kelas V.B memiliki nilai rata-rata di bawah 6,5 sedangkan kelas V.A sebanyak 6,8. Oleh karena itu peneliti mengambil satu kelas yaitu kelas V.B sebagai objek dalam penelitian ini.

Setelah melakukan interviuw dengan guru kelas V.B SDN 5 Mataram salah satu faktor penyebab rendahnya prestasi belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita sebagian besar pendekatan yang digunakan masih bersifat mekanistik. Selama ini proses belajar mengajar didominasi dengan diskusi, penugasan dan latihan sehingga dalam waktu yang relatif singkat guru dapat menyelesaikan bahan pelajaran, kenyataan ini diperkuat oleh alasan guru yaitu mengejar target kurikulum, hal yang demikian merupakan faktor yang menjadikan matematika termasuk pelajaran yang asing yang akhirnya kurang diminati. 
Rendahnya prestasi siswa dapat juga disebabkan karena dalam pengajaran matematika, penyampaian guru cenderung bersifat monoton, hampir tanpa variasi kreatif, kalau saja siswa ditanya, ada saja alasan yang mereka kemukakan, seperti matematika sulit, tidak mampu menjawab, takut disuruh ke depan dan sebagainya  (Siti Nur’Aini, S.Pd, Guru Kelas V.B, Wawancara, Tanggal 5 Desember 2007)

Senada dengan pendapat di atas, kurangnya latihan siswa untuk menyelesaikan soal cerita pecahan mengakibatkan siswa kelas V.B SDN 5 Mataram kurang terampil dalam menyelesakan soal cerita.
Penyebab lainnya dimungkinkan karena adanya guru yang beranggapan bahwa soal cerita matematika merupakan soal-soal penerapan tingkat tinggi, sehingga soal cerita matematika (pecahan) tidak dikembangkan dalam proses pembelajaran dari awal pengembangan konsep (Winarno, 2003:1).

Melihat kondisi di SDN V Mataram yang sering dialami siswa kelas V.B SDN 5 Mataram dalam mengerjakan soal bentuk cerita matematika (pecahan) terutama  seperti sulit memahami dan mengilustrasikan soal cerita, prestasi yang masih rendah pada mata pelajaran matematika yang diantara kebanyakan siswa memperoleh nilai rata-rata < 6,5 dan guru tidak menggunakan alat atau media dalam menjelaskan materi pelajaran yang berkaitan dengan soal cerita matematika itu sendiri sehingga murid menjadi cepat lupa dengan materi yang telah diberikan. (Siti Nur’Aini, S.Pd, Guru Kelas V.B, Wawancara, Tanggal 5 Desember 2007)

Atas dasar ini peneliti mencoba untuk menerapkan satu pendekatan baru yang lebih mengarahkan siswa ke dunia nyata yaitu satu pendekatan yang disebut dengan pendekatan matematika realistik karena pendekatan ini lebih memfokuskan pada kehidupan riil siswa yang membentuk lingkungan belajar yang kondusif karena siswa adalah salah satu faktor pendukung berjalannya kegiatan belajar mengajar (KBM) dan peneliti mencoba untuk melakukan penelitian tentang ”Penerapan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Pecahan Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas V.B SDN 5 Mataram Tahun Pelajaran 2007/2008”
B.    Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah ”Apakah Penerapan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) dalam menyelesaikan soal cerita pecahan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V.B SDN 5 Mataram Tahun Pelajaran 2007/2008?”


C.    Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah ”Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa kelas V.B SDN 5 Mataram dalam menyelesaikan soal cerita pecahan dengan penerapan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) Tahun Pelajaran 2007/2008?”.
D.    Manfaat Penelitian

Berdasarkan urain di atas, penelitian ini tentunya memiliki kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat yang akan diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1)    Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi tentang upaya peningkatan prestasi belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita pecahan dengan menggunakan pendekatan matematika realistik (PMR) pada siswa Kelas V.B di SDN 5 Mataram Tahun Pelajaran 2007/2008.
2)    Manfaat Praktis
a)    Bagi siswa

Pelaksanaan penelitian ini akan dapat membuat siswa lebih berperan aktif dan lebih terampil dalam belajar serta dapat merangsang kemampuan berfikir siswa dalam memecahkan masalah sehingga dapat memperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan dalam upaya mengembangkan pengetahuan
b)    Bagi guru

Dapat dijadikan sebagai alternatif untuk memilih/menyiapkan strategi pembelajaran yang bisa meningkatkan pemahaman siswa sesuai dengan yang diharapkan dan juga untuk menumbuh kembangkan potensi belajar siswa khususnya mata pelajaran matematika
c)    Bagi sekolah

Pelaksanaan penelitian ini akan dapat memberikan manfaat dalam rangka meningkatkan pembelajaran di dalam kelas berupa peningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika maupun mata pelajaran yang lain dan memperbaiki teknik dan metode pembelajaran yang bervariasi.
d)    Bagi Peneliti

Sebagai bahan kajian tentang penerapan PMR dan manfaatnya secara langsung di dalam menuntaskan belajar matematika khususnya dalam menyelesaikan soal cerita matematika terutama soal cerita pecahan.


E.    Definisi Operasional

Untuk menghindari adanya salah pemahaman terhadap makna judul dalam penelitian ini, perlu dijelaskan istilah-istilah sebagai berikut :
1.    Penerapan

Penerapan diartikan sebagai proses, cara, perbuatan menerapkan (Alwi,  2001: 1180). Sedangkan menurut Riyanto (2006 :12) penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi atau konteks yang lain atau yang baru.

Berdasarkan pendapat di atas, yang dimaksud dengan penerapan dalam penelitian ini adalah ini adalah suatu proses dalam pembelajaran yang akan dipelajari.
2.    Matematika Realistik (PMR)

Matematika realistik adalah matematika yang disajikan sebagai suatu proses kegiatan manusia, bukan sebagai produk jadi. Bahan pelajaran yang disajikan melalui bahan cerita yang sesuai dengan lingkungan siswa (Buletin Zigma Edisi, 14, 12 Oktober 2007)

Berdasarkan pendapat tersebut maka matematika realistik dalam penelitian ini adalah matematika yang dijadikan suatu proses atau kegiatan manusia.
3.    Prestasi Belajar

Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok (Djamarah, 1994:19). Sedangkan menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar dalam Djamarah (1994:21) bahwa prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.

Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari (Djamarah, 1994 : 21). Menurut Slameto (1995 : 2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
4.    Soal Cerita Pecahan

Sichman dalam Winarno (2003 : 3) menyatakan bahwa soal cerita dalam matematika adalah soal yang disajikan dalam bentuk uraian atau cerita baik secara lisan maupun tulisan. Soal cerita wujudnya berupa kalimat verbal sehari-hari yang makna dari konsep dan ungkapannya dapat dinyatakan dalam simbiol dan relasi matematika.

Soal cerita yang dibahas dalam penelitian ini adalah soal cerita berbentuk bilangan pecahan karena melihat keterbatasan waktu dalam penelitian ini.

 
F.    Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi, 1998 : 67). Sedangkan menurut Narbuko (2007 : 28) hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenaranya dan masih perlu dibuktikan kenyataanya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :”Penerapan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V.B SDN 5 Mataram dalam menyelesaikan soal cerita pecahan Tahun Pelajaran 2007/2008”


G.    Lingkup Penelitian

Mengingat terbatasnya kemampuan dan fasilitas yang dimiliki, maka pada penelitian ini terbatas pada hal-hal berikut ini :
  • Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas V.B SD Negeri 5 Mataram tahun pelajaran 2007/2008.
  • Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas V.B SD Negeri 5 Mataram tahun pelajaran 2007/200.
  • Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah peningkatan prestasi belajar siswa dengan menerapkan Pendekatan Matematika Realistik (PMR) dalam menyelesaikan soal cerita pecahan yang dihadapi oleh siswa-siswi kelas V.B SDN 5 Mataram  tahun pelajaran 2007/2008

Untuk men download full dokument, silahkan anda klik link di bawah ini :
download[4]

skripsi pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Allah SWT menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin di dunia dengan dilengkapi segenap organ tubuh dan kesempurnaan yaitu : akal, emosi, hawa nafsu dan kelengkapan lainnya. Berbagai kelengkapan tubuh itu yang menjadikan manusia lebih mulia dari mahluk Allah lainnya apabila manusia mampu memfungsikan segala potensi sesuai dengan proporsinya. Namun apabila manusia menyalah gunakan kelengkapan dan potensi yang diberikan Allah itu manusia dapat menjadi mahluk yang rendah dan bahkan lebuh rendah dari binatang sekalipun.
Potensi yang ada pada manusia, selayaknya difungsikan dan ditumbuh kembangkan sesuai dengan proporsinya, manusia akan mampu menjalankan fungsi kepemimpinannya apabila membekali diri dengan ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq 1-5 :



Artinya :  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa  yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-Alaq 1-5) (Depag. RI., 1984:1097)
Sabda Nabi Muhammad SAW :


Artinya : Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. (Shalih, Ibnu ‘Adi dan Baihaqi dari Anas). (Ahdjat, 1995:330).

Dari dua nash tersebut dapat dipahami bahwa Agama Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan pentingnya pendidikan yang menekankan perlunya orang belajar membaca dan menulis serta belajar ilmu pengetahuan.

Dengan berbekal ilmu pengetahuan manusia akan mendapat derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia baik menurut pandangan Allah SWT maupun manusia, dan hal imi dapat diperoleh cara beriman kepada Allah SWT dan memperbanyak serta memperluas ilmu pengetahuan. Allah SWT dalam firman-Nya mengungkapkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Firman Allah dalam surat Al-Mujaadalah ayat 11 yaitu :



Artinya : ….. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui terhadap apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujaadalah : 11) (Depag RI., 1984:910)

Dalam kaitannya dengan menuntut ilmu tersebut, maka seiring dengan kemajuan zaman yang kian pesat, proses belajar tersebut semakin maju dan masalah yang sangat kompleks dan urgen. Salah satu dari kekomplekannya, dapat dilihat dari konteks kekinian baik mulai dari tantangan dan hambatan pendidikan ataupun tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan itu sendiri.

Tujuan pembangunan nasional Bangsa Indonesia yang telah diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke IV adalah :

Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajuka kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan abadi dan keadilan sosial. (UUD 1945, 1993:02)

Cita-cita bangsa Indonesia yang merupakan penegasan dan tujuan akhir pembangunan Nasional tersebut tellah dirumuskan kembali dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1993 tentang GBHN, sebagai tujuan pembanguna nasional yaitu :

Mewujudkan masyarakat adil makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia yang merdeka berkedaulatan rakyat, dalam suasana prikehidupan bangsa yang aman, tentram, tertib dan dinamis.

Untuk merealisasikan tujuan pembangunan nasional tersebut, nampaknya eksistensi pendidikan sangat urgen hal ini dapat dilihat dari tujuan Pendidikan Nasional yang termaktub dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 yaitu :

Pendidikan Nasional adalah pendidikan berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Salah satu bentuk kemajuan dari proses belajar yaitu enggan diadakannya lembaga pendidikan yang secara formal diakui keberadaannya. Orang tua yang semestinya mendidik sendiri anaknya, dalam bebrapa aspek bisa diwakilkan dalam lembaga pendidikan formal tersebut yaitu sekolah. Sekolah atau Madrasah yang menjadi wakil dari amanat orang tua dalam mendidik anak harus memiliki kalifikasi yang cukup, dengan kata lain tidak semua lembaga pendidikan yang secara otomatis menjadi lembaga pendidika yang baik. Dengan demikian kualifikasi merupakan prasarat wajib yang harus dimiliki lembaga pendidikan, baik itu dari segi tenaga edukatif, sarana dan prasarana maupun aspek lain yang terkait. Contoh Skripsi

Berkaitan dengan masalah proses belajar mengajar di sekolah, siswa maupun guru yang akan melakukan dinamisasi dalam arti proses belajar mengajar tersebut merupakan sarana untuk mengembangkan diri dan ilmu pengetahuan, sikap maupun akhlaq. Hanya saja proses belajar tersebut tidak selamanya berjalan tanpa hambatan. Hambatan atau rintangan akan senantiasa muncul setiap waktu baik itu kesulitan mengajar guru, kesulitan belajar siswa dan sebagainya. Sehingga dengan beberapa hambatan tersebut diharapkan guru dan siswa yang bersangkutan akan lebih dinamis dan inovatif.

Keberadaan bimbingan dan penyuluhan di sekolah yang berperan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam berbagai hal terutama masalah kesulitan belajar harus senantiasa mendapat perhatian yang serius agar kesulitan belajar tersebut dapat segera teratasi. Dari sini peranan bimbingan dan penyuluhan disekolah mulai diperlukan dan bukan saja untuk mengatasi kesulitan belajar siswa akan tetapi juga membantu guru dalam mengenal siswanya secara lebih dalam sehingga bimbingan dan penyuluhan lebih sistimatis dan bermutu.
Contoh skripsi
Bimbingan dan penyuluhan yang keberadaannya semakin dibutuhkan dalam dunia pendidikan merupakan suatu badan yang mempunyai fungsi sangat penting. Dengan kata lain bimbingan dan penyuluhan mempunyai peran dalam mencarikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses belajar mengajar. Bimbingan dan penyuluhan berfungsi untuk membantu kelancaran pendidikan dan pengajaran di sekolah, artinya dengan adanya bimbingan dan penyuluhan disekolah secara intensif akan memberi dampak baik secara langsung maupun secara tidak langsung yang akhirnya akan kembali pada keberhasilan pendidikan.

Berdasarkan pada pemikiran inilah kiranya perlu dilakukan penelitian tentang peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumbersari Kabupaten Probolinggo Tahun Pelajaran 2002/2003.

B.    Rumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan hal yang sangat penting di dalam kegiatan penelitian, sebab masalah merupakan obyek yang akan diteliti dan dicari jalan keluarnya melalui penelitian. Pernyataan ini relevan dengan yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya Prosedur Penelitian suatu Pendekatan mengatakan bahwa : “Masalah mesti merupakan bagian kebutuhan seseorang untuk dipecahkan, orang ingin mengadakan penelitian karena ia ingin mendapatkan pemecahan dari masalah yang dihadapi.” (Surahmad, 1989:22)

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah sudah menjadi suatu “kebutuhan” dalam sebuah penelitian, karena tanpa rumusan masalah alur dan sistematika penelitian tidak akan menemukan jawaban dari masalah yang sedang diteliti.

Sedangkan Sanapiah Faisal dalam Metodologi Penelitian Pendidikan mengemukakan :
Dalam penelitian perlu ditegaskan dan dirumuskan masalah yang akan diteliti. Penegasan masalah tersebut sekaligus menggambarkan fokus arah yang diikuti nantinya di dalam proses suatu penelitian. Rumusan masalah cukup terbatas lingkupnya sehingga memungkinkan penarikan kesimpulan yang tegas. (Sudiyono, 1992:61)

Dari definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang bersifat problematik akan memerlukan pemecahan. Dalam penelitian kita dituntut untuk mencari pemecahan masalah tersebut.

Bertitik tolak dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah :
  1. Adakah peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.
  2. Bagaimana peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak dicapai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala yang diusahakan pasti mempunyai tujuan tertentu yang sesuai dengan permasalahannya.

Tujuan dalam penelitian akan sangat membantu terhadap pencapaian hasil yang optimal dan dapat memberikan arah terhadap kegiatan yang dijalankan dalam penelitian itu.
Sesuai dengan persepsi tersebut dan berpijakpada rumusan masalah yang telah disebutkan, maka penelitian ini mempunyai tujuan :
  1. Ingin mengetahui ada tidaknya peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.
  2. Ingin mengetahui bagaimana peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa dengan bimbingan di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.


D.    Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait utamanya bagi pihak-pihak berikut ini :

1.    Bagi Guru
Sebagai sarana untuk mengambil inisiatif dalam rangka penyempurnaan program proses belajar mengajar sehingga antara guru sebagai pendidik di sekolah dan siswa sebagai pihak yang perlu dididik bisa saling melengkapi dan bekerja sama dengan baik, sehingga prestasi belajar siswa akan selalu meningkat.
2.    Bagi Instansi
Sebagai bahan masukan dalam mengambil kebijaksanaan yang tepat dan memberikan/menambah sarana dan prasarana dalam rangka memberikan gairah dalam proses belajar mengajar guna meningkatkan mutu dan prestasi belajar siswa, sekaligus meningkatkan mutu pendidikan.
3.    Bagi Penulis
Sebagai bahan latihan dalam penulisan karya ilmiah, sekaligus sebagai tambahan informasi mengenai bimbingan dan penyuluhan yang ada di lembaga madrasah khususnya di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Lawean Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.



E.    Hipotesis Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto dalam buku Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, menyatakan bahwa “Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul” (1997:67).
Adapun Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Hipotesis Kerja (Ha)
“Ada peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Dewa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo”.
2.    Hipotesis Nihil (Ho)
“Tidak ada peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Dewa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo”. Contoh skripsi

F.    Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Penelitian tentang peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo ini mempunyai jangkauan yang sangat luas. Namun karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dana, dan kemampuan yang dimiliki penulis, maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada masalah sebagai berikut ini :
  1. Karakteristik lokasi penelitian, yakni mengenai gambaran umum tentang lokasi tersebut yang meliputi sejarah berdirinya madrasah, struktur organisasi, dan data-data lain yang diperlukan dalam penelitian.
  2. Bentuk-bentuk bimbingan dan penyulihan yang diberikan oleh guru kepada siswa baik secara prefentif maupun kuratif dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa.
  3. Data tentang hasil perolehan skor dari angket yang telah disebarkan untuk mengetahui ada tidaknya peranan bimbingan dan penyuluhan dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.

G.    Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk menghindari perbedaan interpretasi makna terhadap hal-hal yang bersifat esensial yang dapat menimbulkan kerancuan dalam mengartikan judul, maksud dari penelitian, disamping itu juga sebagai penjelas secara redaksional agar mudah dipahami dan diterima oleh akal sehingga tidak terjadi dikotomi antara judul dengan pembahasan dalam skripsi ini. Definisi operasional ini merupakan suatu bentuk kerangka pembahasan yang lebih mengarah dan relevan dengan permasalahan yang ada hubungannya dengan penelitian.
Sesuai dengan judul “Peranan Bimbingan dan Penyuluhan dalam Menanggulangi Kesulitan Belajar Siswa”, maka batasan pengertian di atas meliputi :
a.    Peranan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memberikan arti peranan, “Tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa” (Depdikbud, 1991:751).

Sedangkan menurut WJS. Poerwadarminto dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan peranan adalah, “Sesuau yang menjadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa)” (Poerwadarminto, 1997:735).

Berdasakan pendapat para ahli di atas, dapat penulis simpulkan bahwa peranan adalah segala sesuatu yang bisa mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa yang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.
b.    Bimbingan dan penyuluhan
Bimbingan dan penyuluhan yang dalam bahasa Inggrisnya disebut Guidance and Couseling merupakan rangkaian dua kata yang jika kata bimbingan disebut biasanya selalu diikuti oleh kata penyuluhan.
Bimo Walgito memberikan definisi bimbingan sebagai berikut :

Bimbingan adalah merupakan tuntunan, bantuan dan pertolongan yang diberikan pada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam hidupnya agar supaya individu atau sekumpulan individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya. (Mapiere, 1997:735).

Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada setiap individu yang mengalami kesulitan hidup. Sesuai dengan potennsi yang ada sehingga mereka bisa hidup sejahtera dan damai. Dalam aktivitas belajar, siswa membutuhkan bimbingan dalam menghadapi kesulitan belajarnya.

Sedangkan pengertian penyuluhan menurut Bimo Walgito adalah :

Penyuluhan adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara, dengan cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. (Mapiere, 1997:04)

Dari dua pengertian tersebut, ada persamaan dan ada perbedaannya. Persamaannya adalah keduanya merupakan suatu bantuan bagi individu-individu dalam menghadapi problem hidupnya. Sedangkan perbedaannya, bimbingan lebih luas dari penyuluhan, bimbingan lebih menitik-beratkan pada segi-segi kuratif. Tetapi walaupun berbeda, penggunaan bimbingan selalu diikuti oleh kata penyuluhan.

c.    Menanggulangi kesulitan belajar
Menanggulangi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia antara lain diartikan “Mengatasi” (Depdikbud, 1991:1005).
Sedangkan Kesulitan berarti “Keadan yang sulit; sesuatu yang sulit, kesukaran. (Depdikbud, 1991: 971).

Sedangkan belajar menurut Gagne (1984) adalah sebagaimana dikutip oleh Ratna Wilis Dahan dalam bukunya yang berjudul Teori-teori Belajar, memberikan definisi belajar yaitu : “suatu proses dimana organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman”. (Dahan, 1989:11).

Belajar adalah segenap rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang mengakibatkan perubahan pengetahuan dan kemahiran yang sedikit banyak permanen. (Dahan, 1989:06).

Dari dua pengertian di atas dapat diketahui bahwa yang dimaksud menanggulangi kesulitan belajar adalah upaya untuk mengatasi keadaan yang terasa sulit sewaktu individu melakukan kegiatan belajar.

Contoh skripsi
H.    Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan merupakan rangkuman sementara dari sisi skripsi, yakni suatu gambaran tentang isi skripsi secara keseluruhan dan dari sistematika itulah dapat dijadikan satu arahan bagi pembaca untuk menelaahnya. Secara berurutan dalam sistematika ini adalah sebagai berikut :

BAB I    PENDAHULUAN
Dalam bab pendahuluan ini dikemukakan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis penelitian, ruang lingkup dan keterbatasan penelitian, definisi operasional dan sistematika pembahasan.

BAB II     KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab kajian pustaka ini dikemukakan tentang pondok pesantren, akhlaq, serta kajian tentang peranan pondok pesantren dalam pembinaan akhlaq masyarakat.

BAB III    METODE PENELITIAN
Dalam bab ini akan dikemukakan tentang rancangan penelitian, populasi dan sampel penelitian, instrumen penelitian, dan teknik pengumpulan data.

BAB IV    HASIL PENELITIAN
Dalam bab hasil penelitian akan dipaparkan tentang penyajian data yang berkaitan dengan hasil yang didapat di lapangan penelitian, serta analisis.
BAB V    KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab terakhir ini akan disajikan tentang kesimpulan sebagai hasil dari penelitian dan dilanjutkan dengan saran-saran yang sekiranya dapat dijadikan bahan pemikiran bagi yang berkepentingan.


BAB II

Kajian Pustaka

Pada Bab II disini diisi dengan kajian pustaka atau matere, landasan teori  skripsi, misal kalaian mabil tentang prestasi belajar, atau manajemen, administrasi atau tentang Makalah kesehatan yaitu cara mengecilkan perut. Nah materi2 itulah yang akan kalian cantumkan disini


BAB III

METODE PENELITIAN

 Contoh skripsi
A.    Rancangan Penelitian

Dalam rangka mencari data yang valid, maka penelitian ini disusun dengan rancangan penelitian seefektif dan seefisien mungkin, agar dalam penulisannya nanti tidak memakan waktu yang terlalu lama dan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti.

Untuk mendapatkan data tentang peranan bimbingan dan penyuluhan, peneliti menggunakan metode angket yang diberikan siswa yang berisi pertanyaan-pertanyaan sekitar aktifitas orang tua yang berhubungan dengan kepribadian anak.

Data yang telah diperoleh dengan menggunakan angket kemudian ditabulasikan dan diletakkan dalam format tabel dengan menggunakan rumus prosentase (%) yang kemudian disusul dengan beberapa analisis hasil dari data angket yang telah dicapai.
Namun sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, maka terlebih dahulu melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut :
1)    Persiapan
Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan unsur yang perlu diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian.

Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut : Contoh skripsi
a)    Menyusun rencana
Dalam menyusun rencana ini penulis menetapkan beberapa hal seperti berikut ini.
1)    Judul penelitian
2)    Alasan penelitian
3)    Problema penelitian
4)    Tujuan penelitian
5)    Obyek penelitian
6)    Metode yang dipergunakan

b)    Ijin melaksanakan penelitian
Dengan surat pengantar dari Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo, penulis dimohonkan ijin ke Kepala Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Laweyan Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut.
c)    Mempersiapkan alat pengumpul data yang berhubungan dengan langkah-langkah orang tua, yakni menyusun instrumen dan angket dan wawancara.
2)    Pelaksanaan
Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :
  • Wawancara
  • Angket
  • Dokumentasi
  • Penyelesaian

Setelah kegiatan penelitian selesai, penulis mulai menyusun langkah-langkah berikutnya, yaitu :
  • Menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.
  • Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji, kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.

B.    Populasi dan Sampel Penelitian
1.    Populasi

Populasi menurut Sutrisno Hadi adalah semua individu untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel yang hendak digeneralisasikan. Sedangkan pengertian sampel adalah sebagian individu yang diselidiki” (1994:70).

Sedangkan menurut T. Raka Joni “Populasi adalah keseluruhan individu yang ada, yang pernah dan mungkin ada yang merupakan sasaran yang sesungguhnya dari pada suatu penyelidikan” (t.th.:13).

Bertolak dari pengertian di atas, maka dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa MTs. Wali Songo Desa Lawean Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo yang berjumlah 98  orang.

2.    Sampel Penelitian
Pengertian mengenai sampel, Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa, “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (1997:177). Selanjutnya Suharsimi menyatakan bahwa :

“Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100 lebih 100 lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung setidaknya dari : Contoh skripsi
  1. Kemampuan peneliti melihat dari segi waktu, tenaga dan dana.
  2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.
  3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti, untuk peneliti yang beresiko besar, hasilnya akan lebih besar” (1992:107)

Berdasarkan pengertian di atas, maka dalam penelitian ini mengambil sampel siswa mulai kelas I sampai dengan kelas III. Adapun jumlah siswa yang penulis jadikan sampel adalah sebagai berikut :

Kelas I berjumlah 15 siswa
Kelas II berjumlah 15 siswa
Kelas III berjumlah 10 siswa

Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 siswa.
Adapun Teknik penarikan sampel (sampling) menurut Saifuddin Azwar ada beberapa macam yaitu :
1.    Sampel probabilitas

Sampel probabilitas adalah teknik penarikan sampel di mana setiap unsur, elemen atau anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Beberapa cara teknik penarikan sampel probabilitas adalah sebagai berikut :
  • Sampling acak sederhana (simple random sampling) adalah proses penarikan sampel dari populasi memiliki peluang yang sama untuk ditarik menjadi sampel.
  • Sampling berstrata (stratified random sampling) adalah proses penarikan sampel dimana keadaan populasi tidak sama (heterogen)
  • Sampling berkelompok (cluster sampling) adalah proses pengambilan sampel dimana keadaan populasi tidak diketahui secara pasti.
  • Sampling sistematis (systematic random sampling) adalah proses pengambilan sampel di mana unsur atau anggota pertama saja dari sampel dipilih acak, sedangkan anggota-anggota berikutnya dipilih secara sistematis berdasarkan cara tertentu.
2.    Sampel Non Probabilitas

Sampel non probabilitas adalah proses penarikan sampel di mana setiap anggota populasi mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel.

Macam-macam teknik penarikan sampel non probabilitas sebagai berikut :
  • Sampling secara kebetulan (accidental sampling) adalah pengambilan sampel dengan cara mengambil siapa saja yang ada atau kebetulan ada.
  • Sampling secara sengaja (purposive sampling) adalah proses penarikan sampel atas dasar pertimbangan yang dibutuhkan oleh peneliti dalam penelitiannya. (1998:87-89)

Berdasarkan teori di atas maka penarikan sampel yang dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan teknik penarikan sampel non probabilitas dengan cara sampling secara sengaja. Contoh skripsi


C.    Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang sesuai dengan apa yang diharapkan, sehingga data yang diperoleh itu benar-benar valid, maka dalam setiap penelitian terlebih dahulu harus menentukan metode apa yang akan dipakai untuk mendapatkan serta mengumpulkannya. Sebab metode merupakan kunci keberhasilan dalam suatu penelitian.
Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Metode Angket
Metode angket dapat dilakukan dengan adanya sejumlah pertanyaan yang tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. (Arikunto, 1993:188)
Dalam hal ini sumber data yang diberi angket adalah 40 siswa untuk memperoleh data mengenai pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan di Madrasah Tsanawiyah Wali Songo Desa Lawean Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo.

2.    Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan transkrip, agenda dan sebagainya. (Arikunto, 1993:198)
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode dokumentasi adalah untuk memperoleh data tentang MTs. Wali Songo terutama data mengenai jumlah siswa siswa, keadaan tenaga pendidik dan karyawan, struktur organisasi lembaga, serta sarana dan prasarana yang ada di lembaga tersebut.


Setelah mengadakan serangkaian kegiatan (penelitian) dengan menggunakan beberapa metode di atas, maka data-data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan teknik deskriptif. Teknik ini dipergunakan untuk menganalisa data yang bersifat kualitatif atau data yang tidak dapat direalisasikan dengan angka. Adapun data yang bersifat kuantitatif akan dianalisa dengan menggunakan teknik prosentase, dimana akan digunakan rumus sebagai berikut :
lebih lanjutnya silakan download disini ya :)


download[4]

Skripsi Keperawatan

PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG KEGAWATAN NAFAS DAN TINDAKAN RESUSITASI PADA NEONATUS  YANG MENGALAMI KEGAWATAN PERNAFASAN DI RUANG NICU, RUANG PERINATOLOGI DAN RUANG ANAK RSUD GUNUNG JATI CIREBON


BAB  I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Kebijakan pemerintah dalam pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 menempatkan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas penting karena anak adalah harapan bangsa di masa yang akan datang. Kemajuan bangsa di masa mendatang akan sangat tergantung dari kondisi kesehatan anak saat ini.

Dalam rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 terdapat beberapa program unggulan yang berhubungan dengan kesehatan anak yaitu program perbaikan gizi, penanggulangan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, peningkatan kesehatan keluarga, kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, kesehatan lingkungan pemukiman, air dan udara sehat dan pencegahan kecelakaan. Program-program tersebut dilakukan melalui upaya kesehatan seperti pemeriksaan ibu hamil, imunisasi, pertolongan persalinan, penanggulangan penyakit-penyakit penyebab kematian, deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang anak serta upaya kesehatan sekolah.

Beberapa indikator terkait dengan kesejahteraan anak menjadi indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan terutama dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan pembangunan di bidang kesehatan. Indikator tersebut adalah angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian balita (AKABA).

Angka kematian bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah jumlah kematian   bayi di bawah usia 1 tahun per 1000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan indikator yang sensistif terhadap ketersediaan, pemanfaatan dan kualitas pelayanan kesehatan terutama pelayanan perinatal. AKB juga berhubungan dengan pendapatan  keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan ibu dan keadaan gizi keluarga.

Angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2000 berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) adalah 44 per 1000 kelahiran hidup. Sementara estimasi SUSENAS, angka kematian bayi pada tahun 2001 adalah 50 per 1000 kelahiran hidup.  Kematian bayi tersebut disebabkan oleh penyakit-penyakit seperti yang tercantum pada tabel di bawah ini :

Tabel 1.1
Proporsi Penyakit Penyebab Kematian Bayi di Indonesia Tahun 2001

No.
Jenis Penyakit
%
1.
Gangguan Perinatal
34,7 %
2.
Sistem Pernafasan
24,6 %
3.
Diare
9,4 %
4.
Sistem Pencernaan
4,3 %
5.
Gejala Tidak Jelas
4,1 %
6.
Tetanus
3,4 %
7.
Syaraf
3,2 %
Sumber : SURKESNAS 2001


Indikator selanjutnya adalah angka kematian balita (AKABA). Angka kematian balita adalah jumlah anak yang meninggal  sebelum mencapai usia 5 tahun per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian balita ini menggambarkan keadaan lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan.
Angka kematian balita pada tahun 2001 menurut SUSENAS adalah 64 per 1000 kelahiran hidup.  Penyebab kematian balita menurut SUSENAS 2001 dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1.2
Pola Penyakit Penyebab Kematian Balita di Indonesia Tahun 2001

No.
Jenis Penyakit
%
1.
Sistem Pernafasan
22,8 %
2.
Diare
13,2 %
3.
Syaraf
11,8 %
4.
Tifus
11,1 %
5.
Sistem Pencernaan
5,9 %
6.
Infeksi Lain
5,1 %
Sumber : SURKESNAS 2001 Skripsi Keperawatan

Berdasarkan data di atas maka penyebab terbanyak kematian bayi dan balita adalah gangguan perinatal dan penyakit-penyakit sistem pernafasan. Menurut Yunanto, dkk (2003) upaya menurunkan angka kematian bayi dilakukan dengan mempercepat usaha rujukan agar bayi resiko tinggi dapat segera mendapat pertolongan. Bayi-bayi yang termasuk ke dalam kelompok resiko tinggi adalah bayi berat lahir rendah (BBLR), asfiksia pada bayi baru lahir, kejang, sesak nafas, perut kembung, kuning pada bayi dan perdarahan pada bayi.

Rujukan pelayanan kesehatan ini terutama ditujukan kepada bayi baru lahir beresiko tinggi yang mengalami kegawatan perinatal atau perinatal distress. Kegawatan perinatal disebabkan oleh berbagai gangguan yang berpotensi meningkatkan kematian atau kesakitan pada neonatus. Akibat gangguan tersebut bayi akan sakit sehingga pertumbuhannya terhambat atau kemampuan adaptasinya terganggu atau bahkan menimbulkan kematian.

Kegawatan perinatal ini bisa terjadi pada bayi aterm maupun preterm, bayi dengan berat lahir cukup maupun dengan berat lahir rendah (BBLR). Bayi dengan BBLR yang pretrem berpotensi mengalami kegawatan lebih besar. Berbagai jenis kegawatan yang sering dijumpai di lapangan dan mempunyai angka morbiditas dan mortalitas cukup tinggi serta penanganan segera yaitu trauma kelahiran, asfiksia neonatorum, sindroma gawat nafas neonatus, hiperbilirubinemia, infeksi, kejang dan renjatan atau syok (Yunanto, dkk, 2003).

Kegawatan pernafasan juga dapat terjadi pada bayi dengan penyakit pernafasan dapat menimbulkan dampak yang cukup berat bagi berupa terjadinya henti nafas atau bahkan kematian. Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan adalah terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia) pada tubuh.

bayi akan beradapatasi terhadap kekurangan oksigen dengan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila  keadaan hipoksia semakin berat dan lama, metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain (Yu dan Monintja, 1997).  Selanjutnya dapat terjadi depresi pernafasan yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang bahkan dapat menyebabkan kematian.

Depresi nafas yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang hanya dapat diatasi dengan pemberian oksigen dengan tekanan positif, massase jantung eksternal dan koreksi keadaan asidosis. Hanya setelah oksigenasi dan perfusi jaringan diperbaiki maka aktivitas respirasi dimulai (Yu dan Monintja, 1997).

Pendapat tersebut menekankan pentingnya tindakan resusitasi dengan segera. Makin lambat dimulainya tindakan resusitasi yang efektif maka akan makin lambat pula timbulnya usaha nafas dan makin tinggi pula resiko kematian dan kecacatan. Hal ini diperkuat dengan pendapat Nelson (1999) yang menyatakan bahwa peluang keberhasilan tata laksana penderita dengan henti nafas menitikberatkan pada pentingnya kemampuan tata laksana karena peningkatan hasil akhir pasca henti pernafasan dihubungkan dengan kecepatan dilakukannya resusitasi jantung paru.
Resusitasi merupakan sebuah upaya  menyediakan oksigen ke otak, jantung dan organ-organ vital lainnya melalui sebuah tindakan yang meliputi pemijatan jantung dan menjamin ventilasi yang adekwat (Rilantono, 1999). Tindakan ini merupakan tindakan kritis yang dilakukan pada saat terjadi  kegawatdaruratan terutama pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler.  kegawatdaruratan pada kedua sistem tubuh ini dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang singkat (sekitar 4 – 6 menit).

Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997).  Resusitasi pada anak yang mengalami gawat nafas merupakan tindakan  kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang unik pada situasi kritis dan mampu menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis (Hudak dan Gallo, 1997).
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Apabila perilaku didasari pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku bersifat langgeng (Notoatmodjo, 2003). Perilaku manusia sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang luas. Terbentuknya suatu perilaku baru terutama pada orang dewasa dimulai dari domain kognitif, dalam arti subjek terlebih dahulu mengetahui terhadap stimulus yang berupa materi atau obyek luarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subyek tersebut.
Pengetahuan perawat tentang resusitasi merupakan modal yang sangat penting untuk pelaksanaan tindakan resusitasi pada situasi kritis. Pengetahuan ini menentukan keberhasilan tindakan resusitasi. Pengetahuan tentang resusitasi  didapat melalui pendidikan, pelatihan atau pengalaman selama bekerja.
Pengetahuan tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi di Ruang NICU, Ruang Perinatologi  dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon harus dikuasai dengan baik oleh perawat karena RSUD Gunung Jati Cirebon adalah rumah sakit
BAB II

BAB III
METODE PENELITIAN
Skripsi Keperawatan

3.1   Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan objek atau peristiwa yang bertujuan untuk mengetahui keadaan yang terjadi pada saat sekarang (Notoatmodjo, 2002).

 Pada penelitian ini, peneliti ingin memperoleh gambaran tentang pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus  yang mengalami gawat nafas di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon.

3.2   Variabel Penelitian
Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 1998). Variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan  resusitasi pada neonatus  di ruang NICU, Perinatologi dan Ruang Anak di RSUD Gunung Jati Cirebon.
3.3   Populasi dan Sampel

3.3.1   Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, yang meliputi keseluruhan elemen yang ada dalam wilayah penelitian (Arikunto, 1998). Populasi dalam penelitian ini adalah perawat di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon berjumlah 35 orang yang terdiri dari perawat di Ruang NICU sebanyak 12 orang, 10 orang perawat Ruang Perinatologi dan 13 orang perawat Ruang Anak.

3.3.2   Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 1998). Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan tehnik sampling jenuh, yaitu tehnik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini dilakukan karena jumlah populasi relatif kecil (Sugiono,1999).
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh perawat di Ruang NICU, Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon yang berjumlah 35 perawat  (total sampling).

3.4   Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan instrumen berupa angket yang berisi beberapa pertanyaan tertutup yang harus diisi oleh responden.

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 1998). Jenis kuisioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup, dimana pada setiap item pertanyaan responden memilih jawaban yang  disediakan yang terdiri dari empat jawaban dengan skala ordinal. Jawaban yang benar diberi nilai 1 dan jawaban yang salah diberi nilai 0 sehingga data yang diperoleh merupakan data berskala nominal dikotomus.
Pada saat pengumpulan data, peneliti mendampingi responden secara langsung dalam pengisian kuesioner, sehingga apabila responden kurang jelas dengan maksud pertanyaan, bisa langsung bertanya pada peneliti.

3.5   Prosedur Pengumpulan Data
Peneliti memberikan penjelasan terlebih dahulu  tentang maksud dan tujuan penelitian. Setelah mendapat persetujuan dari responden, kemudian responden mengisi dan menandatangani lembar persetujuan . Setelah itu kuesioner dapat langsung digunakan dan diisi oleh respoden.

3.6   Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan responden. Kuesioner ini sebelumnya telah diuji terlebih dahulu ketepatannya sebagai alat ukur dengan cara uji validitas dan reliabilitas.

Uji instrumen dilaksanakan di RSUD Arjawinangun pada tanggal 28 – 30 November 2005  terhadap 10 orang perawat Ruang Perinatologi dan Ruang Anak.


3.6.1    Uji Validitas

Validitas adalah ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan dan keshahihan suatu instrumen (Arikunto, 1998). Disamping itu juga validitas menunjukan sejauh mana item pertanyaan pada kuesioner mampu menggambarkan konsep yang diukur.

Data hasil penelitian merupakan skor minimal dikotomus, maka digunakan korelasi point biserial untuk menguji validitas item pada kuesioner. Koefisien korelasi point biserial dihitung dengan rumus :
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Skripsi Keperawatan


5.1   Kesimpulan
Dari hasil penelitian     tentang “Pengetahuan Perawat tentang Kegawatan Nafas dan tindakan Resusitasi pada Neonatus yang Mengalami Kegawatan Pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon” yang dilaksanakan pada tanggal 2 sampai 12 Desember 2005 dapat disimpulkan bahwa:
  1. Pengetahuan perawat tentang konsep kegawatan pernafasan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan sebagian besar (65%) adalah baik.
  2. Pengetahuan perawat tentang konsep asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan sebagian besar (78%) adalah baik.
  3. Pengetahuan perawat tentang konsep, tujuan dan  tindakan resusitasi pada neonatus dengan kegawatan pernafasan  sebagian besar (55%) adalah kurang.
Secara umum pengetahuan perawat tentang konsep kegawatan pernafasan dan konsep asuhan keperawatan pada neonatus dengan kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak adalah cukup, hal ini dilatarbelakangi oleh   tingkat pendidikan yang sebagian besar adalah DIII keperawatan dan pengalaman bekerja sebagian besar perawat yang relatif lama.
Sedangkan pengetahuan perawat tentang konsep resusitasi dan tindakan resusitasi sebagian besar kurang, hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pelatihan yang berhubungan dengan penatalaksanaan kegawatan pernafasan, misalnya pelatihan resusitasi. Kurangnya pengetahuan tentang konsep resusitasi dan tindakan resusitasi akan berdampak pada hasil akhir tindakan resusitasi berupa tidak tercapainya tujuan resusitasi yang dapat mengakibatkan kecacatan atau bahkan kematian.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan:

5.2.1 Bagi Rumah Sakit
  1. Pihak rumah sakit bertanggung jawab memberikan fasilitas dan sarana yang memadai bagi tenaga keperawatan untuk meningkatkan pengetahuan keperawatan baik berupa pelatihan ataupun pendidikan berjenjang dalam rangka memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat.
  2. Ruangan yang mempunyai tingkat pelayanan kritis yang tinggi seperti ruang intensif disarankan perawat yang bekerja mempunyai pendidikan minimal DIII Keperawatan dan mempuyai sertifikasi untuk melakukan tindakan resusitasi.
5.2.2 Bagi Tenaga Profesi Keperawatan   
Pengetahuan dan keilmuan keperawatan senantiasa mengalami kemajuan dan perubahan pesat sehingga untuk dapat memberikan pelayanan prima dituntut tenaga profesional, sehingga pengetahuan, sikap dan keterampilan perawat harus selalu ditingkatkan baik dengan mengikuti pelatihan atau pendidikan yang bersifat formal maupun nonformal.
5.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
 Bagi calon peneliti selanjutnya, dapat meneliti tentang gambaran pelaksanaan tindakan resusitasi yang dilakukan oleh perawat pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU maupun di Ruang Perinatologi.
DAFTAR PUSTAKA


American Heart Association. 2003. ACLS: Principles and Practice.

Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta : Bina Aksara

Arikunto, S. 2003 Manajemen Penelitian. Cetakan ke enam. Jakarta : PT      Rineka Cipta

Hudak,CM dan Gallo, BM. 1997. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik. Alih Bahasa Monika E. dkk. Edisi VI, Volume I . Jakarta : EGC

Indonesia. Departemen Kesehatan, Pusat Data Statistik. 2002. Profil Kesehatan Indonesia 2001. Departemen Kesehatan RI

Jumiarni dkk. 1995. Asuhan Keperawatan Perinatal. Jakarta : EGC

Markum, AH. 1999. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Nelson, B. 2000. Ilmu Kesehatan Anak  vol 2 edisi 15. Jakarta : EGC

Ngastiyah. 1997.Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Oh iya. dalam postingan contoh skripsi keperawatan ini saya tidak mencantumkan secara detail atau selengkapnya di karenakan banyak lampiran atau tabel atau diagram yang terdapat pada skripsi ini, maka dari itu untuk mengampangkan anda dalam mendapatkan skripsi keperawatan ini silahkan anda download filenya, SO mudah mudahan anda terbantu dengan adanya file ini, thanks Ya.

Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA DI LINGKUNGAN TERMINAL SENEN JAKARTA PUSAT
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang

Mendengar kata pedagang asongan, supir, kondektur, dan calo mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Pedagang asongan adalah para pedagang yang biasa menjajakan dagangannya di sekitar terminal dan di dalam bus-bus. Mereka selalu berupaya untuk menarik pembeli agar membeli dagangannya, yang kadang juga suka terlihat sedikit memaksa. Supir adalah para pengemudi bus atau angkot yang selalu terlihat di lingkungan terminal. Kondektur adalah orang yang membantu supir untuk menarik penumpang ke dalam angkot atau bus, sedangkan calo adalah perantara atau reseller. Kata calo kadang bersifat negatif karena apa yang calo lakukan adalah menggunakan kesempitan orang menjadi suatu kesempatan. Calo juga identik dengan preman atau penguasa daerah tertentu yang sudah menjadi objek pencariannya.

Di lingkungan terminal, kita terkadang sering mendengar pembicaraan yang diucapkan oleh pedagang asongan, supir, kondektur, dan calo yang sering mengucapkan kata-kata kasar. Penulis sendiri pernah melihat bagaimana para supir angkot atau bus dengan wajah ‘terpaksa’ memberi sejumlah persenan kepada calo. Mungkin bagi sebagian orang hal yang dilakukan calo itu biasa saja, sehingga mereka pantas menerima sejumlah uang.

Lalu apa yang akan terjadi jika para supir dan kondektur tersebut tidak memberikan uang yang tidak sesuai dengan keinginan calo. Yang terjadi selanjutnya adalah teriakan kata-kata makian atau kata-kata kasar (sarkasme) yang keluar dari mulut calo tersebut kepada supir dan kondektur. Sarkasme yang keluar dari mulut calo-calo itu biasanya adalah nama-nama binatang dan jenis kelamin seseorang seperti ‘anjing’, ‘monyet’, ‘babi’, dan sebagainya. Jika supir tidak menerima perkataan yang dilontarkan calo kadang-kadang mereka pun membalas dengan makian yang lebih kasar, sehingga sering terjadi “adu mulut” antara calo, supir, dan kondektur. Hal ini juga sering diikuti oleh pedagang asongan yang sering menambah suasana menjadi ricuh.

Salah satu fenomena kebahasaan yang penulis dapatkan adalah tuturan yang diucapkan oleh salah satu calo dan supir angkot di Terminal Senen :
         Supir  :  “Yeuh duitna, dua rebu nya?”
        Calo   :  “ Anjing maneh mah ngan sakieu!”
        Supir  :  “ Terus mentana sabaraha? Urang ge can nyetor, teu boga duit     sia!”
        Calo   :  “ Mbung nyaho aing mah, sarebu deui atuh!”
        Supir  :  “ Lebok tah duitna, blegug maneh mah!”
        Calo   :  “Eh…dasar supir monyet”.

Fenomena kebahasaan di atas adalah penggalan beberapa kalimat realisasi kesantunan berbahasa yang diucapkan oleh calo dan supir angkot di Terminal Senen Jakarta Pusat. Penulis akan meneliti fenomena kebahasaan yang terjadi pada tiga bahasa, yaitu bahasa Sunda, bahasa Jawa , dan bahasa Indonesia. Banyak hal yang membuat kata-kata kasar keluar dari pemakainya. Sarkasme itu sendiri kadang bisa memancing kemarahan orang yang dituju, tapi kadang juga tidak berpengaruh karena itu sudah menjadi hal yang lumrah untuk keduanya. Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

Dilihat dari sudut penuturnya, bahasa itu berfungsi personal atau pribadi (Halliday 1973; Finnocchiaro 1974; Jakobson 1960 menyebutkan fungsi emotif). Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah, atau gembira.

Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar (Finnocchiaro 1974; Halliday 1973 menyebutkan fungsi instrumental; dan Jakobson 1960 menyebutkan fungsi retorikal). Disini bahasa itu tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang dimaui si pembicara. Hal ini dapat dilakukan si penutur dengan menggunakan kalimat-kalimat yang menyatakan perintah, imbauan, permintaan maupun rayuan.

Bila dilihat dari segi kontak antara penutur dan pendengar maka bahasa disini berfungsi fatik (Jakobson 1960; Finnocchiaro 1974 menyebutkan interpersonal; dan Halliday 1973 menyebutkan interactional), yaitu fungsi menjadi hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat, atau solidaritas nasional.
Dalam masyarakat, bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi sangat beragam. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para  penuturnya  yang tidak homogen, tetapi juga karena interaksi sosial yang mereka lakukan beragam.

Menurut Moeliono (1980:17), mengikuti Quirk, Grenbaum, Leech, Svarvik (1972), ditinjau dari sudut pandangan penuturnya, ragam dapat diperinci menurut patokan daerah, pendidikan, dan sikap penutur.
Sarkasme adalah sejenis majas yang mengandung mengolok-olok atau sindiran pedas dengan menyakiti hati (Purwadarminta dalam Tarigan, 1990:92). Apabila dibandingkan dengan ironi dan sinisme, maka sarkasme ini lebih kasar. Menurut Badudu (1975:78), sarkasme adalah gaya sindiran terkasar. Memaki orang dengan kata-kata kasar dan tak sopan di telinga. Biasanya diucapkan oleh orang yang sedang marah.

Berbahasa adalah aktivitas sosial. Seperti aktivitas sosial lainnya, kegiatan bahasa bisa terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Di dalam berbicara, pembicara dan lawan bicara sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan bicaranya. Setiap peserta tindak ucap bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi sosial itu (Alan dalam Wijana, 2004:28).

Di dalam berbahasa juga terdapat etika komunikasi, dan di dalam etika komunikasi itu sendiri terdapat moral. Moral mempunyai pengertian yang sama dengan kesusilaan yang memuat ajaran tentang baik dan buruknya perbuatan. Jadi, perbuatan itu dinilai sebagai perbuatan yang baik atau buruk (Burhanudin Salam, 2001:102).

Etika juga bisa diartikan sebagai ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dinilai baik dan mana yang jahat. Etika sendiri juga sering digunakan dengan kata moral, susila, budi pekerti dan akhlak (Burhanudin Salam, 2001:102).

Sementara itu, secara sederhana Prof. I. R. Poedjowijatna (1986), mengatakan bahwa sasaran etika khusus kepada tindakan-tindakan manusia yang dilakukan secara sengaja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal banyak yang tidak mengandung etika.

Dalam berkomunikasi, tidak akan pernah lepas dengan adanya pola berbahasa yang diucapkan kasar, baik berupa mengolok-olok atau sindiran yang menyakitkan hati. Seperti tuturan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur tidak mengandung unsur kesantunan berbahasa. Misalnya, mudah marah, kata-katanya kasar, dan bersifat memaksa saat meminta uang karena mereka merasa penguasa tempat tersebut.

Suparno menjelaskan dalam artikelnya, bahwa ragam bahasa yang tidak santun ini menjadi hal yang lazim diucapkan. Sarkasisasi tersebut justru menjadikan keakraban tanpa sekat strata, sehingga mereka yang menggunakan ragam bahasa tersebut dapat menikmatinya dengan senang dan bangga hati. Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

Fenomena kebahasaan ini tentu saja menarik untuk diteliti karena dapat menambah wawasan keilmuan linguistik saat ini. Penulis memilih analisis kesantunan berbahasa pada tuturan orang-orang penghuni terminal berdasarkan pertimbangan bahwa; ragam bahasa yang kasar kerap kali menjadi instrumen komunikasi dalam pergaulan sebagian masyarakat Indonesia. Baik kalangan yang berpendidikan maupun yang tidak berpendidikan, karena penelitian mengenai kesantunan berbahasa ini masih jarang dilakukan, maka penulis tertarik untuk menelitinya.

1. 2. Identifikasi Masalah
Hal-hal yang diidentifikasi dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra
  1. wujud ragam bahasa yang dipakai oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur;
  2. bahasa yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur banyak yang tidak santun;
  3. ragam bahasa yang tidak sepantasnya diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur dan;
  4. penyimpangan-penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur.

1. 3. Batasan Masalah           .
Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini hanya terbatas pada hal-hal sebagai berikut:
  1. tuturan calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur yang tidak mengandung kesantunan;
  2. ragam bahasa yang tidak sepantasnya diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur;
  3. penyimpangan-penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di terminal angkot/bus.

1. 4. Rumusan Masalah:
  1.  Bagaimana realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal?
  2. Apa sajakah wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur?
  3. Bagaimana penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur?
  4. Bagaimana persepsi penyimak bahasa yang berasal dari luar lingkungan terminal terhadap realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal?

1. 5. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah
  1. mendeskripsikan kesantunan berbahasa oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal;
  2. untuk mencari tahu ragam bahasa yang digunakan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal;
  3. mendeskripsikan penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal dan;
  4. mengetahui persepsi penyimak bahasa di luar lingkungan terminal terhadap kesantunan berbahasa calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur.

1. 6. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini sebagai berikut.
  1. Untuk kajian linguistik, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya data tentang penelitian bahasa-bahasa kasar.
  2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendokumetasikan nilai-nilai kesantunan yang dituturkan di lingkungan terminal.


BAB II
Dapatkan bab ini setelah anda download, dikarenakan banyak pembahasan, maka dari itu saya memudahkan anda untuk mendownloadnya
BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra


3. 1.  Metode Penelitian

Latar belakang dan masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah masalah-masalah faktual. Maksudnya, masalah kesantunan berbahasa adalah masalah yang sedang dihadapi oleh pemakai bahasa Indonesia sekarang. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif bersifat deskriptif. Data yang dihasilkannya berupa kata-kata dan kalimat-kalimat yang termasuk kategori sarkasme yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal.

Istilah deskriptif itu menyarankan bahwa penelitian yag dilakukan semata-mata hanya berdasarkan pada fakta-fakta yang ada atau fenomena yang memang secara empiris hidup pada penutur-penuturnya, sehingga yang dihasilkan atau yang dicatat berupa perian bahasa yang biasa dikatakan sifatnya seperti potret: paparan seperti adanya. Bahwa perian yang deskriptif itu tidak mempertimbangkan benar salahnya penggunaaan bahasa oleh penutur-penuturnya, hal itu merupakan cirinya yang pertama dan terutama (Sudaryanto : 1992:62).

Dalam hal ini penulis membuat deskripsi tentang bagaimana tuturan yang digunakan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Selain itu, penulis juga mengumpulkan fakta-fakta mengenai respons para penutur bahasa Indonesia yang tidak menggunakan tuturan sarkasme yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Dengan demikian, dari kedua fakta tersebut di atas dapat diperoleh persepsi  yang muncul dari penutur bahasa Indonesia ketika menerima suatu tuturan sarkasme calo, pedagang asongan, supir dan kondektur tersebut.

Metode penelitian deskriptif kualitatif dipilih karena penulis mengidentifikasi serta mendeskripsikan masalah-masalah yang berkenaan dengan tuturan yang tidak santun dan respons penutur melalui wawancara. Selanjutnya, penulis memperoleh data bagaimana persepsi yang muncul dari para penutur bahasa Indonesia ketika menerima tuturan yang tidak santun.
3. 2. Teknik Penelitian
   
3. 2. 1. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, teknik rekam, dan teknik catat. Penulis terlebih dahulu mengobservasi dengan mengamati situasi dan keadaan lingkungan, kemudian melakukan wawancara kepada calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur dengan melakukan wawancara berstruktur untuk mendapatkan informasi yang relevan. Selanjutnya, dengan teknik rekam penulis merekam kejadian faktual di lapangan. Terakhir langkah dilakukan dengan teknik catat, yaitu mencatat semua kejadian dari tuturan calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di Terminal Senen Jakarta Pusat.

Selanjutnya, proses pengumpulan data sebagai berikut:
1.    Teknik Rekam
Penulis meminta bantuan kepada teman yang berada di Jakarta Pusat menggunakan telepon genggam atau handphone untuk merekam tuturan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur, sehingga penulis akan mendapatkan data mengenai realisasi kesantunan berbahasa yang ada di lingkungan terminal, khususnya Terminal Senen Jakarta Pusat.
2.    Teknik Catat
hasil dari proses rekaman tuturan tersebut kemudian ditranskripsi beserta konteks yang dituturkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Setelah itu, akan didapatkan data tentang wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur di lingkungan terminal.
3.    Teknik Observasi
setelah data tertulis didapat, selanjutnya mengobservasi situasi dan keadaan lingkungan terminal. Melalui teknik ini kita akan mendapatkan data tentang penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur yang ada di lingkungan terminal.
4.    Teknik Wawancara
setelah hasilnya ditranskripsi selanjutnya dengan mewawancarai calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Selain itu, penulis juga mewawancarai penutur bahasa yang bertutur kata sopan dan santun sehingga akan diketahui persepsi penyimak bahasa terhadap realisasi kesantunan berbahasa yang berasal dari luar lingkungan terminal.
BAB IV

ANALISIS DATA TUTURAN LANGSUNG BERBAHASA DI LINGKUNGAN TERMINAL DAN RESPONS PARA PENUTUR BAHASA INDONESIA SERTA PEMBAHASAN
Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra


4. 1. Pengantar

Pada bab ini akan dibahas bagaimana tuturan langsung dan pelanggaran prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, kondektur, dan supir angkot yang berada di lingkungan terminal, serta bagaimana respons penutur bahasa Indonesia terhadap kesantunan berbahasa dari hasil wawancara. Kartu data untuk menganalisis tuturan-tuturan yang terjadi di lingkungan terminal.

Uraian ini menggambarkan  analisis tuturan langsung yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, kondektur, dan supir ditinjau dari kesantunan berbahasa, prinsip kesopanan (Leech) dan respons para penutur bahasa Indonesia.

Dalam mengumpulkan data penulis harus terjun langsung ke lapangan, yaitu daerah Terminal Senen Jakarta Pusat. Selama beberapa hari penulis mengamati kejadian yang ada di lingkungan terminal tersebut. Tuturan-tuturan yang diucapkan oleh orang-orang yang berada di lingkungan terminal terutama calo, pedagang asongan, supir dan kondektur, hanyalah tuturan yang mengandung kategori ketidaksantunan berbahasa. Hampir sebagian besar tuturan yang diucapkan oleh mereka adalah tuturan kasar, sangat tidak enak didengar, dan melanggar Prinsip Kesantunan Leech. Banyak hal yang menjadi penyebab mengapa orang-orang di terminal menuturkan tuturan kasar tersebut. Untuk itu dalam bab 4 ini penulis akan menganalisis tuturan kasar yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur yang melanggar prinsip sopan santun (Leech), dan respons para penutur bahasa Indonesia mengenai tuturan kasar di lingkungan terminal tersebut.

4. 2. Prinsip Kesantunan Leech
Berbicara tidak selamanya berkaitan dengan masalah yang bersifat tekstual, tetapi seringkali pula berhubungan dengan persoalan yang bersifat interpersonal. Prinsip Kesantunan memiliki sejumlah maksim, yakni maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kerndahan hati, maksim kecocokan dan maksim kesimpatian.

Pada keenam maksim di atas terdapat bentuk ujaran yang digunakan untuk mengekspresikannya. Bentuk-bentuk ujaran yang dimaksud adalah bentuk ujaran impositif, komisif, ekspresif, dan asertif. Bentuk ujaran komisif adalah bentuk ujaran yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran. Ujaran impositif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan perintah atau suruhan. Ujaran ekspresif adalah ujaran yang digunakan untuk menyatakan sikap psikologis pembicara terhadap sesuatu keadaan. Ujaran asertif adalah ujaran yang lazim digunakan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan.

Berikut ini penulis akan menganalisis tuturan langsung ketidaksantunan berbahasa di lingkungan terminal oleh calo, pedagang asongan, supir, dan kondektur. Tuturan yang dianalisis hanyalah tuturan yang melanggar prinsip kesantunan Leech.

4. 2. 1. Pelanggaran Maksim Kebijaksanaan
Bijaksana adalah suatu sifat atau karakter. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bijaksana diartikan sebagai sifat yang selalu menggunakan akal budi, arif, adil, kecakapan dalam menghadapi atau memecahkan suatu masalah.

Tuntunan-tuntunan untuk bertutur bijaksana agar tercipta hubungan antara diri (penutur) dan lain (petutur), dipaparkan dalam ilmu bahasa Pragmatik. Gagasan untuk bertutur santun itu dikemukakan oleh Leech dalam maksim kebijaksanaan, yang mengharuskan peserta tutur agar senantiasa berpegang teguh untuk selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan pihak lain.

Dalam konteks tuturan sehari-hari yang spontan, banyak kita jumpai pelanggaran terhadap maksim ini, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Seperti tuturan di bawah ini:
 BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1. SIMPULAN
Setelah melakukan analisis terhadap tuturan langsung di lingkungan terminal dan respons penutur bahasa di luar lingkungan terminal, penulis menarik beberapa simpulan sebagai berikut :
  1. Tuturan yang ada di lingkungan terminal khususnya di Terminal Senen Jakarta Pusat yang dituturkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur semuanya tidak mengandung unsur kesantunan berbahasa dan melanggar Prinsip Kesantunan Leech.
  2. Wujud ragam bahasa yang tidak santun yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur sangatlah kasar. Seperti misalnya terdapat nama-nama binatang yang sering diucapkan oleh mereka. Wujud ragam bahasa tersebut sangat tidak enak didengar, menyakitkan hati, bicara dengan kepahitan, mengolok-olok atau sindiran dan mengandung celaan getir.
  3. Penyimpangan prinsip kesopanan yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur melanggar maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan dan maksim kesimpatian. Pelanggaran terbesar ada pada maksim kebijaksanaan. Maksim kebijaksanaan ini menggariskan setiap peserta pertuturan untuk meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain.
  4. Persepsi penutur bahasa di luar lingkungan terminal seperti guru, mahasiswa, karyawan swasta dan ustadz beranggapan bahwa tuturan yang ada di lingkungan terminal sebagian besar adalah tuturan kasar. Menurut mereka yang menjadi latar belakang penutur mengucapkan tuturan kasar adalah latar pendidikan yang rendah, lingkungan yang memungkinkan mereka untuk bertutur kasar dan landasan iman yang kurang kuat.
  5. Tuturan kasar yang diucapkan oleh calo, pedagang asongan, supir dan kondektur yang melanggar Prinsip Kesantunan Leech ternyata sudah menjadi bahasa sehari-hari yang mereka ucapkan jika berada di lingkungan terminal, namun jika mereka berada di luar lingkungan terminal mereka tidak menuturkan tuturan kasar tersebut.
  6. Faktor yang menjadi penyebab calo, pedagang asongan, supir dan kondektur menuturkan tuturan kasar adalah faktor lingkungan dan faktor social. Faktor lingkungan timbul karena perbedaan asal daerah penuturnya. Maksudnya mereka menuturkan tuturan kasar tersebut karena memang lingkungan yang mereka hadapi menerima dan tidak terlalu peduli dan situasinya memang mendukung untuk mengucapkannya. Sedangkan faktor sosial timbul karena perbedaan kelas sosial penuturnya karena para penghuni yang bekerja di lingkungan terminal sebagian besar memang status sosialnya rendah dan latar belakang pendidikan mereka juga rendah.



5. 2. SARAN

Berdasarkan hasil analisis data dan simpulan yang telah penulis kemukakan di atas, pada bagian ini penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
  1. Penulis berharap ada penelitian lanjutan yang lebih spesifik terhadap realisasi kesantunan berbahasa di lingkungan terminal, dengan kajian yang menarik, sample yang lebih besar, dan teknik analisis yang lebih mendalam untuk mendapatkan hasil kajian yang sempurna.
  2. Seiring dengan masih jarangnya penelitian mengenai kesantunan berbahasa, maka penelitian ini perlu mendapatkan perhatian dari para ahli bahasa. Terutama pihak yang berwenang dalam bidang ini mampu memberikan bantuan demi melancarkan penelitian.
  3. Agar dalam melakukan penelitian secara langsung ke lapangan penulis diberikan kemudahan dalam mendapatkan data dari sumber yang dituju.
  4. Berharap jika ada penelitian lanjutan, peneliti selanjutnya lebih berani mengungkapkan fakta-fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan, tidak terpaku pada apa yang dilihat dan didengar saja.
DAFTAR PUSTAKA
Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra

Alwasilah, A. Chaedar (2003). Pokoknya Kualitatif. Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya dan Pustaka Studi Sunda.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Hanafi, Abdillah. 1984. Memahami Komunikasi Antar Manusia. Surabaya: Usaha Nasional.
Hasan, Alwi. 1995. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Harras, Kholid A. Santun Berbahasa. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
_______. ____. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta : Balai Pustaka.
_______. 2009. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, EYD TERBARU (Permendiknas Nomor 46 Tahun 2009). Yogyakarta: Pustaka Timur.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta : PT. Gramedia.
Oh iya, karena Skripsi Bahasa Indonesia dan Sastra ini saya posting tidak secara lengkapdikarenakan banyaknya lampiran, tabel atau yang lainnya yang dapat menyulitkan saya dalam membagi dalam bentuk uraian di blog aadesanjaya.blogspot.com ini maka saya menyediakan link untuk mendownload, Silahkan download ya, jangan lupa infokan ke teman teman yang lain di blog ini banyak artikel bermanfaat heeeheh ^_^

download[4]