TAYANGAN KEKERASAN DI TELEVISI DAN PERILAKU PELAJAR

TAYANGAN KEKERASAN DI TELEVISI
DAN PERILAKU PELAJAR

Oleh : Ida Tumengkol

Abstrak

Penelitian ini mencoba untuk mengetahui tanggapan para pelajar di Kecamatan Medan Tembung atas tayangan kekerasan di televisi swasta nasional dan sejauh mana tayangan tersebut memberikan motivasi bagi pelajar untuk melakukan tindakan kekerasan. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif yaitu dengan melakukan survei ke lapangan untuk mengumpulkan data dalam bentuk kuesioner kepada para pelajar di Kecamatan Medan Tembung.
Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa pada umumnya pelajar (55,8%) suka tayangan televisi yang menampilkan aksi kekerasan. Para pelajar ini pada umumnya juga pernah melakukan kekerasan (65,1%) seperti memukul, mencubit dan menampar. Dan sebanyak 13,9% pelajar mengaku perilaku kekerasan yang dilakukannya termotivasi oleh tayangan televisi
Apa yang dihasilkan dalam penelitian ini baik untuk ditelaah para pengelola televisi swasta nasional untuk memperhatikan efek dari pesan kekerasan dalam tayangan televisi. Agar tayangan tersebut lebih dibatasi untuk kepentingan pendidikan anak bangsa secara berkelanjutan.

Kata kunci: kekerasan, perilaku

Pendahuluan
Sejak berkembangnya industri pertelevisian di tahun 90-an, publik di Indonesia disajikan jenis tontonan yang semakin beragam. Khususnya setelah dikeluarkannya Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999 yang menandai era kebebasan pers di Indonesia, penonton televisi di Indonesia disajikan berita-berita yang semakin cepat dan detail. Khususnya berita tentang kekerasan, baik yang disajikan dalam bentuk film, berita-berita, olahraga hiburan seperti smack down ataupun kekerasan dalam sajian kartun. Pelaku tindak kekerasan dalam tayangan televisi bisa dilakukan para orang dewasa ataupun oleh pelajar.
Berita kekerasan di media televisi tidak sedikit yang melibatkan pelajar, baik dari pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) mempraktekkan kekerasan dalam lingkungan sekolah atau dalam lingkungan yang terkait dalam dunia pendidikan.
Berita-berita yang disajikan media televisi ini dikonsumsi secara luas dan bebas oleh semua kalangan termasuk kalangan pelajar. Hal ini terkait dengan keberadaan manusia yang merupakan makhluk yang memerlukan informasi karena sifat ingin tahu yang dimiliki oleh setiap orang. Orang juga terdorong mencari informasi untuk dapat memahami berbagai aspek lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial di mana dia berada. Dalam interaksi sosial, seseorang individu akan melakukan komunikasi yang merupakan sarana individu untuk saling dipertukarkan. Schramm mengatakan bahwa ‘usaha-usaha untuk mencari informasi secara individual kebanyakan dari komunikasi’ (Siregar, 1983:35). Apalagi di era digital sekarang ini di mana kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari media massa khususnya televisi. Sekarang ini media menjadi sumber informasi yang sangat akrab karena hampir setiap hari berinteraksi dari pagi hari sampai malam. Seperti dikatakan Wiener (Susanto, 1986:3) ‘untuk dapat hidup efektif orang harus hidup dengan cukup informasi’.
Masalah kekerasan di media sudah sejak lama jadi perhatian para pakar sosiologi, psikologi dan komunikasi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Penelitian Liebert dan Sprafkin memandang televisi sebagai 'jendela dini' anak-anak untuk melihat dunia. Mereka menelaah semua teori dan riset mengenai sikap, perilaku dan perkembangan anak-anak, membahas efek negatif juga efek prososial menonton televisi bagi anak-anak.
Penelitian mereka menyebutkan, pesawat televisi di Amerika rata-rata  dihidupkan lebih dari tujuh jam setiap hari dan sejak tahun 1950-an secara signifikan telah mengubah kehidupan keluarga. Di Amerika sendiri, hampir 98 persen dari semua rumah memiliki televisi sehingga disimpulkan bahwa anak-anak diterpa televisi sejak mereka lahir. (Robert M Liebert and Joyce Sprafkin, 1988).
Di Amerika, selama sepuluh tahun pertama kehidupan anak-anak yang terkena terpaan televisi adalah sangat dominan. Diperkirakan, menjelang seorang anak lulus dari SMA rata-rata mereka telah menonton sekitar 18.000 pembunuhan dalam televisi. Sebuah survei mengenai acara televisi melaporkan bahwa pada senja hari ketika sekitar 26,7 juta anak Amerika menonton televisi, insiden-insiden kekerasan yang diperlihatkan kira-kira sekali dalam setiap 16,3 menit. (Stewart and Sylvia, 1996).
Di Indonesia, setidaknya ada 10 stasiun televisi swasta nasional, yakni Indosiar, TPI, TransTV, ANTV, Global TV, RCTI, SCTV, TVOne, MetroTV, TransTV ditambah satu televisi pemerintah, yaitu TVRI dan tiga stasiun televisi lokal yaitu Deli TV, DAAI TV dan TV Anak. Pada umumnya, stasiun televisi swasta nasional termasuk TPI memiliki tayangan khusus kriminal. Di samping itu, sajian televisi pada umumnya sering menampilkan adegan kekerasan dalam berbagai bentuk.
Berbagai telaah dan penelitian para ilmuwan menyimpulkan bahwa tayangan kekerasan di televisi yang disiarkan secara berulang-ulang menimbulkan efek bagi para pelajar. Para pelajar akan berubah dari objek yang menonton tayangan kekerasan menjadi pelaku kekerasan tersebut. Asumsi tersebut akan menarik jika digali lebih dalam melalui penelitian ini.

Perumusan Masalah
            Dari uraian yang disampaikan di atas, dalam penelitian ini dirumuskan hal yang menjadi masalah, yakni: Apakah tayangan kekerasan di media televisi memotivasi perilaku kekerasan pada pelajar ?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
1.      Untuk mengetahui tanggapan pelajar tentang tayangan kekerasan di televisi.
2.      Untuk mengetahui kemampuan tayangan kekerasan di televisi memberikan motivasi melakukan tindakan kekerasan di kalangan pelajar.

Uraian Teoritis
a. Komunikasi Massa
            Pada prinsipnya komunikasi dapat menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat atau sebaliknya semua aspek kehidupan menyentuh komunikasi. Itulah sebabnya komunikasi dikatakan sebagai ubiquitous atau ada di mana-mana. Artinya komunikasi itu selalu ada di mana saja dan kapan saja. Fenomena komunikasi dapat memelihara dan menggerakkan kehidupan. Komunikasi dapat mengubah insting menjadi inspirasi, yaitu melalui proses atau sistem untuk bertanya, memberi perintah dan mengawasi. Ia juga sebagai alat untuk menggambarkan aktivitas masyarakat dan peradaban. Ia dapat memperkuat perasaan kebersamaan dengan saling bertukar informasi dan mengubah pemikiran menjadi tindakan, (Arifin, 1998:20).
            Kegiatan komunikasi yang menggunakan media massa disebut dengan komunikasi massa. Dalam pemakaiannya secara populer, komunikasi massa sering diidentikkan dengan penggunaan televisi, radio, film, surat kabar, majalah dan berbagai bentuk teknologi lainnya. Bittner mendefinisikan komunikasi massa secara sederhana yakni: komunikasi massa sebagai pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang (Rakhmat, 1994:188).
            Ada beberapa karakteristik dari komunikasi massa (Wright, 1988:3) yaitu:
1.      Ditujukan kepada khalayak yang relatif besar, bersifat heterogen dan anonim.
2.      Pesan yang disampaikan terbuka untuk umum dan seringkali menjangkau khalayak dalam jumlah besar secara simultan dan bersifat sementara.
3.      Komunikator cenderung merupakan suatu organisasi yang kompleks yang mungkin melibatkan biaya yang besar.

b. Televisi
            Seperti halnya radio, televisi lahir setelah adanya beberapa penemuan teknologi seperti telepon, telegraf, fotografi (yang bergerak dan yang tidak bergerak) dan rekaman suara. Teknologi ini ditemukan untuk mencari kegunaan, bukannya sesuatu yang lahir sebagai respons terhadap suatu kebutuhan pelayanan baru.
            Williams mengatakan ‘Berbeda dengan jenis teknologi komunikasi terdahulu, radio dan televisi merupakan sistem yang dirancang terutama untuk kepentingan transmisi dan penerimaan yang merupakan proses abstrak yang batasan isinya sangat terbatas atau bahkan sama sekali tidak ada’.(Raymond Williams, 1975)
            Televisi adalah produk revolusi elektronik atau sering disebut juga Revolusi Industri Kedua dalam abad ke-20 ini, menurut pengamatan para ahli komunikasi menimbulkan revolution of the rising frustration (revolusi meningkatnya frustrasi). Anggapan ini karena media elektronik telah memanipulasi keinginan khalayak, tetapi tidak menciptakan cara-cara untuk memperolehnya. Informasi yang disebarkan media massa elektronik terutama dilancarkan dari atas ke bawah, dari kaum elit ke massa khalayak, dari kota ke desa, dari yang sudah berkembang ke yang sedang berkembang. (Onong, 1992:119).
            Menurut Prof Dr R. Mar’at dari Universitas Padjajaran Bandung, acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan para penonton; ini adalah hal yang wajar. Jadi apabila ada hal-hal yang menyebabkan penonton terharu, terpesona atau latah, bukanlah suatu yang istimewa, sebab salah satu pengaruh psikologis dari televisi seakan-akan menghipnotis penonton sehingga mereka seolah-olah hanyut dalam keterlibatan pada kisah atau peristiwa yang dihidangkan televisi.
            Pengaruh televisi itu kuat terhadap kehidupan manusia sudah diduga dan disadari  ketika media massa itu pada tahun 1962 mulai dimunculkan di tengah-tengah masyarakat. Tetapi pengaruhnya bisa positif bisa negatif tergantung pengelolaannya. Masalahnya sekarang adalah bagaimana agar pengaruh yang positif itu seperti to inform (menyebarkan informasi) dan to educate (fungsi mendidik) bisa benar-benar dimanfaatkan. Sedangkan to entertain (fungsi menghibur) dan to influence (mempengaruhi) jangan sampai merusak tata nilai bangsa.

c. Definisi Kekerasan
            Definisi kekerasan Fisik badan kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa World Health Organization (WHO) adalah tindakan fisik yang dilakukan terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik, seksual dan psikogi. Tindakan itu antara lain berupa memukul, menendang, menampar, menikam, menembak, mendorong (paksa) dan menjepit.
            Sedangkan UU Anti Perdagangan Orang mengajukan definisi kekerasan adalah setiap perbuatan dengan atau tanpa menggunakan sarana secara melawan hukum terhadap fisik yang menimbulkan bahaya bagi nyawa, badan, atau menimbulkan terampasnya kemerdekaan seseorang.
            Kedua definisi kekerasan tersebut tidak mensyaratkan bahwa tindakan yang memicunya harus selalu tindakan ilegal, yang penting tindakan itu mengakibatkan ketakutan, kesadaran akan bahaya atau perampasan kemerdekaan seseorang. Karena itu kekerasan dibagi menjadi dua unsur, definisi kekerasan dan ancaman kekerasan. Hingga makna kekerasan merupakan ancaman atau penggunaan kekuatan fisik untuk menimbulkan kerusakan pada orang lain.

d. Teori Belajar Sosial
            Menurut teori belajar sosial, orang cenderung meniru perilaku yang diamatinya. Berbagai penelitian yang dilakukan (Liebert dan Baron, 1972; Joy, 1977) memberikan suatu kesimpulan bahwa efek adegan kekerasan terjadi dalam tiga tahap:
1.      Penonton mempelajari metode agresi setelah melihat contoh (observational learning).
2.      Kemampuan penonton dalam mengendalikan dirinya berkurang (disinhibition).
3.      Perasaan mereka menjadi tidak tersentuh walaupun melihat korban tindakan agresinya (desensitization).

Berkaitan dengan kekerasan, teori belajar sosial menjelaskan bahwa anak mempelajari perilaku baru melalui pengamatan terhadap model, mengimitasi dan mempraktikkanya ke dalam perilaku nyata.
            Lingkungan sosial menyediakan bermacam-macam kesempatan untuk memperoleh ketrampilan dan kecakapan dengan jalan mengamati pola-pola tingkah laku  beserta akibat-akibatnya atau konsekuensi-konsekuensinya. Teori belajar sosial mulai dengan menganalisis dua hal:
1. Teori Behavioristik: Teori ini memandang belajar itu sebagai hubungan antara stimulus dan respon.
2. Teori tentang Sosialisasi anak: Teori behavioristik hanya terbatas pada hubungan S – R (Stimulus – Respons) saja. Sedangkan teori belajar sosial beranggapan bahwa hubungan antarpribadi antara anak dengan orang dewasa menyebabkan anak meniru atau menyerap perilaku-perilaku sosial melalui interaksi sosial anak melakukan identifikasi dengan orang tuanya, dengan kekuasaan, dengan perasaan iri dan sebagainya.

Metodologi Penelitian
a. Metode Penelitian
Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Penelitian ini untuk menggambarkan secara objektif apa adanya data yang didapat dari lapangan.
           
b. Lokasi Penelitian
            Penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan.

c. Populasi Dan Sampel
            Populasi penelitian ini adalah para pelajar tingkat SLTA yaitu tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) yang bersekolah di wilayah Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan. Berdasarkan data dari Pemko Medan, jumlah populasi pelajar SLTA di Kecamatan Medan Tembung sebanyak 10.889 orang yang terdiri dari 5.721 orang tingkat SMA, 4.294 orang tingkat SMK dan 874 orang untuk tingkat MA.
Sedangkan sampel dalam penelitian ini ditarik dari populasi dengan menggunakan rumus Slovin (Consuelo:1993).

N
                                                                      n  =
                                                                                          1 + Ne ²
            Di mana:
n  = Besaran sampel
            N = Besaran populasi
            e =  Nilai kritis yang diinginkan

            Maka
                                                                   10.889
                                                                      n =
                                                                                  1 + (10889) (10%)²
                                                                               
                                                                         =      92 Responden
           
Penarikan sampel menggunakan teknik Proportional Stratified Random Sampling di mana jumlah sampel ditarik sesuai dengan proporsi dalam populasinya. (Bambang & Lina: 2005)

                        Populasi
Sampel 1   =                           x   Total Sampel
                      Total Populasi
            Maka :
            Sampel SMA   =   5721/10889 x 92  =  48 Responden
            Sampel SMK   =   4294/10889 x 92  =  36 Responden
            Sampel MA     =   874/10889 x 92    =    8 Responden

Metode Analisis Data
            Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan dengan melakukan survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data, yang termasuk dalam penelitian kuantitatif.
            Penelitian kuantitatif pada umumnya adalah bersifat deduktif, yaitu dimulai dari penjelasan teoritis yang bersifat umum. Kemudian pandangan teoritis yang bersifat umum itu diuji kebenarannya kepada suatu sampel tertentu yang bersifat khusus untuk diambil suatu kesimpulan.        
Secara umum penelitian kuantitatif diartikan sebagai suatu penelitian yang menggunaan alat bantu statistik sebagai paling utama dalam memberikan gambaran atas suatu peristiwa atau gejala, baik statistik deskriptif maupun statistik inferensial.

Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden
Para responden dibagi ke dalam kelompok kelas I, kelas II dan kelas III setingkat SLTA. Dari segi jenis kelamin, responden dikelompokkan pria sebanyak 50 persen dan perempuan 50 persen. Usia responden adalah usia sekolah tingkat SLTA antara 16 sampai 20 tahun.
2. Waktu menonton televisi
Pada umumnya para pelajar menonton TV pada malam hari (53,5%) dan sore hari (20,9%). Sedangkan 18,6% menonton TV pada siang hari dan hanya 7% pada pagi hari.



Tabel 1
Waktu Menonton Televisi
No
Waktu Menonton
F
      %
1.
Pagi hari
7
7
2.
Siang hari
17
18,6
3.
Sore hari
19
20,9
4.
Malam hari
49
53,5
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92
            Sementara waktu yang dihabiskan di depan televisi setiap hari rata-rata 2-5 jam (79,1%) dan 18,6% yang menonton 0-1 jam sehari serta sebanyak 2,3% menonton TV selama 6-10 jam sehari.
Tabel 2
Waktu Menonton Televisi
No
Waktu Menonton
      F
                 %
1.
0-1 jam
17
18,6
2.
2-5 jam
73
79,1
3.
6-10 jam
2
2,3
4.
11-15 jam
-
-
5.
15 jam <
-
-
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92

3. Tujuan Menonton Televisi
Pada umumnya pelajar menonton TV untuk mencari hiburan (52%), sedangkan yang ingin mencari informasi sebanyak (32,6%) dan hanya 2,3% untuk tujuan pendidikan, selebihnya 13,1% untuk tujuan lain.

Tabel 3
Tujuan Menonton Televisi
No
Tujuan Menonton
F
%
1.
Mencari hiburan
48
52
2.
Mencari informasi
30
32,6
3.
Untuk pendidikan
2
2,3
4.
Dll
12
13,1
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92
           
Setelah menonton tayangan televisi banyak pelajar akan mengabaikan apa yang baru dia saksikan (39,5%). Namun jumlah yang menjadikan tayangan televisi sebagai referensinya juga cukup signifikan, yakni 25,6%. Selebihnya 18,6% memikirkan/menganalisanya dan 16,3% yang mendiskusikannya.







Tabel 4
Tindakan Setelah Menonton
No
Tindakan Setelah Menonton TV
F
%
1.
Memikirkan/Menganalisa
17
18,6
2.
Dijadikan referensi
24
25,6
3.
Mendiskusikannya
15
16,3
4.
Mengabaikannya
36
39,5
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92

4.  Jenis Tontonan
Jenis tontonan hiburan berupa musik adalah yang paling disukai pelajar (44,3%), disusul tayangan berita (20,9%), film Barat (18,6%), olahraga (9,3%), Kartun (4,6%), dan sinetron 2,3%.

Tabel 5
Jenis Tontonan
No
Jenis tontonan
F
%
1.
Berita
19
20,9
2.
Sinetron
2
2,3
3.
Film Barat
17
18,6
4.
Kartun
4
4,6
5.
Musik
41
44,3
6.
Olahraga
9
9,3
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92

Jenis tayangan berita yang paling disukai pelajar adalah berita kriminal (60,5%), politik (13,9%), ekonomi (11,6%), infotainment (9,3%).

Tabel 6
Jenis Berita
No
Jenis Berita
F
%
1.
Berita Kriminal
56
60,5
2.
Berita Politik
13
13,9
3.
Berita Ekonomi
11
11,6
4.
Infoteinmen
8
9,3
5.
Dll
4
4,7
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92

                Sedangkan jenis film yang paling disukai adalah film perang (62,8%) dan film action/laga (23,3%) yang mana keduanya adalah jenis film yang cenderung menampilkan aksi kekerasan.



Tabel 7
Jenis Film Yang Ditonton
No
Jenis Film
F
%
1.
Film Action/Laga
21
23,3
2.
Film Perang
58
62,8
3.
Film Asmara
13
13,9
4.
Dll
-
-
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92

5.      Frekuensi Menonton Tayangan Kekerasan
Pada umumnya para pelajar ternyata suka menyaksikan tayangan kekerasan (55,8%), bahkan 23,3% sangat menyukainya. Jumlah yang tidak suka lebih sedikit (16,3%) dan sangat tidak suka 4,6%.

Tabel 8
Tingkat menyukai tayangan kekerasan
No
Tanggapan
F
%
1.
Sangat Suka
21
23,3
2.
Suka
51
55,8
3.
Tidak Suka
15
16,3
4.
Sangat Tidak Suka
5
4,6
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92
           
            Meski jumlah yang jarang menonton tayangan kekerasan sebanyak 55,8%, namun yang sering menontonya juga banyak, yakni 41,9% dan 2,3% sangat sering.

Tabel 9
Frekuensi Menonton Tayangan Kekerasan
No
Frekuensi Kekerasan
F
%
1.
Sangat Sering
2
2,3
2.
Sering
39
41,9
3.
Jarang
51
55,8
4.
Tidak Pernah
-
-
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92

            Meski menyukai, namun pada umumnya pelajar berpendapat tayangan kekerasan tidak perlu (60,5%) dan 9,3% sangat tidak perlu. Namun ada 30,2% yang menyatakan perlu.

Tabel 10
Tanggapan Pelajar Terhadap Tayangan Kekerasan
No
Tanggapan
F
%
1.
Sangat Perlu

-
2.
Perlu
28
30,2
3.
Tidak Perlu
56
60,5
4.
Sangat Tidak Perlu
8
9,3
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92



6.   Motivasi Tayangan Kekerasan Di Televisi
Perilaku kekerasan seperti mencubit, memukul, menampar pernah dilakukan pada umumnya pelajar (65,2%), bahkan ada 13,9% yang mengaku sering melakukannya. Sedangkan 20,9% tidak pernah melakukan kekerasan.

Tabel 11
Perilaku Kekerasan Pelajar
No
Perilaku Kekerasan
F
%
1.
Sangat Sering
-
-
2.
Sering
13
13,9
3.
Pernah
60
65,2
4.
Tidak Pernah
19
20,9
Jumlah
92
100
Sumber : Hasil Penelitian
n = 92

            Perilaku kekerasan yang dilakukan pelajar karena termotivasi oleh tayangan kekerasan di televisi (13,9%) dan 7% lainnya sangat dimotivasi oleh tayangan tersebut.
Tabel 12
Motivasi Tayangan Kekerasan
No
Motivasi Tayangan
F
%
1.
Sangat Memotivasi
6
7
2.
Memotivasi
13
13,9
3.
Tidak Memotivasi
56
60,5
4.
Sangat Tidak Memotivasi
17
18,6
Jumlah
92
100
 Sumber : Hasil Penelitian
 n = 92

Pembahasan
            Dari sebanyak 92 responden yang merupakan pelajar tingkat SLTA di Kecamatan Medan Tembung, 51 orang (55%) adalah pria dan 41 orang (45%) adalah perempuan.
            Sebanyak 20% responden menyukai tayangan berita di televisi dan dari yang menyukai berita tersebut, 60,5% lebih menyukai tayangan berita kriminal. Hal ini berbanding lurus dengan jenis film yang lebih disukai yakni jenis film perang (62,8%) dan jenis film laga/action (23,3%).
            Pada umumnya pelajar (55,8%) suka tayangan yang menampilkan aksi kekerasan dan 41,9% mengaku sering menyaksikan tayangan seperti itu. Mereka menyatakan tayangan yang berbau kekerasan itu perlu dilihat pelajar (30,2%), meski yang menyatakan tidak perlu masih jauh lebih banyak yakni 60,5%.
            Para pelajar ini pada umumnya juga pernah melakukan kekerasan (65,1%) dan yang menyatakan sering melakukan kekerasan sebanyak 13,9%, selebihnya 20,9% tidak pernah melakukan kekerasan seperti memukul, mencubit dan menampar. Jumlah ini sebanding dengan jumlah pelajar yang termotivasi melakukan tindakan kekerasan karena tayangan televisi. Sebanyak 13,9% mengaku perilaku kekerasan yang dilakukannya termotivasi oleh tayangan televisi, meski jumlah yang tidak termotivasi masih jauh lebih besar (60,5%) dan yang sangat tidak termotivasi 18,6%.

Kesimpulan
            Frekuensi tayangan kekerasan di televisi semakin tinggi, sesuai dengan keinginan masyarakat penonton televisi yang memang menggemari tayangan seperti itu. Kalangan pelajar adalah salah satu kelompok masyarakat yang menyukai tayangan yang berbau kekerasan.
            Hobi menyaksikan tayangan kekerasan tersebut ternyata menimbulkan motivasi bagi pelajar untuk melakukan tindakan kekerasan yang sama. Baik secara sadar ataupun tidak sadar mereka memiliki kecenderungan melakukan tindakan kekerasan seperti yang dilihatnya di televisi.

download full Document, silahkan anda klik link di bawah ini :
download[4]

Artikel Terkait:

0 Responses to "TAYANGAN KEKERASAN DI TELEVISI DAN PERILAKU PELAJAR"

Poskan Komentar