OPTIMALISASI EMBUNG DALAM PENGEMBANGAN USAHATANI LAHAN KERING DI NTB


OPTIMALISASI EMBUNG DALAM PENGEMBANGAN USAHATANI
LAHAN KERING DI NTB
(Kasus Desa Sukaraja, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur)
Arif Surahman, I. M. Wisnu W dan Sasongko
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat
PO. Box 1017 Mataram, Telp (0370) 671312, faks (0370) 671620
ABSTRAK
Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki  lahan kering  yang luasnya  mencapai + 1,8 juta ha atau 83,25% dari luas wilayah, namun yang sudah digunakan untuk  tanaman  pangan adalah seluas 211.635 ha, yang terdiri atas ladang/huma 40.636 ha dan tegalan/kebun seluas 171.000 ha.  Kabupaten Lotim yang merupakan salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat mempunyai lahan kering seluas 115.694 hektar.  Air merupakan salah satu kendala utama dalam pengembangan lahan kering di NTB karena secara umum daerah NTB merupakan daerah semi arid tropik dimana curah hujan biasanya relatif tinggi ( 1000 – 250 mm/tahun) namun hujan hanya terjadi pada beberapa bulan saja (3 – 4 bulan). Salah satu potensi sumberdaya air yang ada di kabupaten Lombok Timur adalah embung-embung rakyat yang banyak terdapat di Lombok Timur bagian selatan. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengobservasi keberadaan embung di Desa Sukaraja, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lotim dalam upaya optimalisasi embung tersebut dalam pengembangan usahatani lahan kering. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah study kasus. Pengumpulan data dengan teknik diskusi kelompok secara partisipatif dan wawancara yang mendalam.  Data yang dikumpulkan dianalisa secara diskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukan bahwa jumlah embung yang ada di Desa Sukaraja adalah 440 buah dengan luas 342 ha. Air embung tersebut dapat dimanfaatkan untuk usahatani lahan kering seperti padi, tembakau, sayur-sayuran, maupun peternakan. Disamping itu embung juga bermanfaat untuk keperluan rumah tangga dan perikanan.  Peran embung sangat dirasakan oleh petani dalam peningkatan produktivitas usahataninya maupun peningkatan pendapatan.
Kata kunci: Embung; usahatani; lahan kering
PENDAHULUAN
Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki  lahan kering  yang luasnya  mencapai + 1,8 juta ha atau 83,25% dari luas wilayah, namun yang sudah digunakan untuk  tanaman  pangan adalah seluas 211.635 ha, yang terdiri atas ladang/huma 40.636 ha dan tegalan/kebun seluas 171.000 ha (BPS , 2002)
Kabupaten Lotim yang merupakan salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat mempunyai lahan kering seluas 115.694 hektar. Air merupakan salah satu kendala utama dalam pengembangan lahan kering di NTB karena secara umum daerah NTB merupakan daerah semi arid tropik dimana curah hujan biasanya relatif tinggi ( 1000 – 250 mm/tahun) namun hujan hanya terjadi pada beberapa bulan saja (3 – 4 bulan) (Alkasuma et al 2004).
Lahan marginal adalah lahan yang berpotensi rendah untuk menghasilkan produksi pangan yang disebabkan karena sifat fisik, kimia, morphologi dan mineral tidak menguntungkan dan juga pengaruh lingkungan seperti iklim, hidrologi, topografi yang tidak mendukung pertumbuhan tanaman. Kegiatan pertanian di lahan kering/marginal sangat tergantung pada kearifan dalam konservasi air dan  pemanfaatannya oleh  petani. Sumber air di lahan tadah hujan hanyalah dari curah hujan, sehingga acapkali menjadi faktor pembatas untuk meningkatkan produktivitas lahan dan introduksi berbagai teknologi bidang pertanian.
Pengelolaan usaha pertanian di lahan marginal umumnya terpusat pada musim penghujan. Panen air hujan  dilaporkan efektif untuk mengatasi masalah kekurangan air di lahan tadah hujan. Namun teknik memanen air hujan sangat bervariasi tergantung fisiografi lahan dan ketersediaan sumberdaya lokal.  Teknik pemanenan air hujan dengan teknik tandon (penampung air berukuran kecil) cocok dikembangkan di daerah tadah hujan dengan intensitas dan distribusi curah hujan yang tidak pasti (Parimawati, 2001).
Embung atau tandon air adalah waduk berukuran mikro di lahan pertanian (small farm reservoir) yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan dan menggunakannya jika diperlukan tanaman pada musim kemarau. Teknik pemanen air (water harvesting) demikian cocok bagi ekosistem tadah hujan dengan intensitas dan distribusi curah hujan tidak pasti (eratic) (Syamsiah dan A. M. Fagi, 2004). Embung sudah melekat dengan kehidupan masyarakat tani di kabupaten Lombok Timur terutama dalam pelaksanaan usahataninya. Keberhasilan usahatani di kabupaten ini khususnya untuk daerah-daerah yang terletak dibagian selatan dapat dikatakan sangat ditentukan oleh kepemilikan embung oleh petani.  Mengingat keberadaannya yang sudah cukup lama, peranannya yang cukup besar dalam mendukung keberhasilan pertanian di daerah ini maka dipandang perlu untuk mengkaji sistem pengelolaan sumberdaya air melalui embung yang dilaksanakan petani di bagian selatan Kabupaten Lombok Timur. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengobservasi keberadaan embung di Desa Sukaraja, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lotim dalam upaya optimalisasi embung tersebut dalam pengembangan usahatani lahan kering.
METODOLOGI
Pengkajian dilaksanakan di desa Sukaraja kecamatan Jerowaru, kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan dalam pengkajian ini adalah studi kasus (case study). Obyek studi kasus mengenai keberadaan embung dan upaya petani dalam pengelolaan sumberdaya daya air melalui embung di kabupaten Lombok Timur dalam mendukung usahatani lahan kering. Penetapan desa dan kecamatan sebagai lokasi pengkajian ditentukan secara purposif berdasarkan jumlah embung terbanyak di kabupaten Lombok Timur. Sumber data/informasi berasal dari petani, tokoh masyarakat, aparat pemerintah desa, kelompok P3A, pekasih  dan  pengamat air irigasi. Pengumpulan data menggunakan teknik PRA melalui diskusi kelompok (FGD), wawancara mendalam dan observasi lapangan. Data yang dikumpulkan dianalisa secara diskriptif kualitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Desa Sukaraja
Luas wilayah desa Sukaraja setelah pemekaran 17,69 km2 dengan batas wilayah yang baru yaitu di sebelah Utara adalah desa Sepit dan desa Lekor, di sebelah Selatan berbatasan dengan desa Batu Nampar, di sebelah Timur berbatasan dengan desa Jerowaru dan di sebelah Barat berbatasan dengan desa Ganti. Secara administratif desa Sukaraja terbagi menjadi 10 dusun yaitu dusun Sukaraja, Dasan Baru, Tangun, Embung Dalem, Lengkok Baru, Wakan, Tuping, Tangar, Batu Tambun dan Lengkoq Lauk. Penguasaan lahan pertanian di desa Sukaraja dari tahun ke tahun terus semakin berkurang. Berkurangnya luas lahan pertanian disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk yang selalu memerlukan tempat untuk membuat pemukiman. Pembangunan perumahan merupakan faktor utama yang menyebabkan berkurangnya luas lahan pertanian di desa ini, karena tenaga kerja Indonesia yang berhasil di Malaysia mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk membangun rumah sebagai prioritas utama.
Sebagian besar wilayah desa Sukaraja berupa sawah tadah hujan  yang tersebar di sembilan dusun kecuali di dusun Batu Tambun. Luas sawah di desa Sukaraja 1.026 ha. Air irigasi untuk sawah bersumber dari  air sungai yang melintasi desa, suplai air irigasi HLD, air hujan yang ditampung pada embung dan dari ari sumur yang dibuat di tengah sawah. Air hujan merupakan faktor penentu keberhasilan usahatani di desa ini, karena debit air yang berasal dari sungai dan irigasi HLD tidak mencukupi untuk pertanaman padi di musim hujan, oleh karena itu maka sawah di desa ini lebih cocok dikategorikkan sebagai sawah tadah hujan.
Jumlah penduduk desa Sukaraja pada tahun 2004 tercatat sebanyak 9.681 jiwa  dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 2.535 kk. Jumlah penduduk perempuan di desa ini lebih besar dari pada jumlah penduduk laki-laki, hal ini dapat dilihat dari komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dimana jumlah penduduk laki-laki 4.657 orang dan perempuan sebanyak 5.024 orang. Mata pencaharian sebagian besar penduduk desa Sukaraja adalah di sektor pertanian. Karena kondisi agroekosistemnya yaitu sebagian besar berupa sawah tadah hujan sehingga hanya dapat ditanami padi pada musim hujan dan tembakau pada MK I.
Keberadaan Embung di Desa Sukaraja.
Embung di Desa Sukaraja  merupakan embung milik pribadi yang diperoleh secara turun temurun. Embung sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat desa Sukaraja dan saat ini embung ada yang berumur lebih dari 100 tahun. Pemanfatan air embung  diatur berdasarkan  ikatan kekeluargaan. Petani lain di sekitar embung yang bukan merupakan kerabat dekat (ahli waris) pemilik embung  pada umumnya tidak memiliki akses dalam pemanfaatan embung.
Motivasi petani membuat embung didasarkan kepada kondisi curah ikim dan curah hujan di daerah tersebut yaitu curah hujan yang rendah dan ama hhujan yang angat singkat. Disamping itu mempertahankan ketahanan pangan merupakan salah satu motivasi petani untuk membuat embung. Sebelum masuknya varietas unggul padi umur pendek, petani desa Sukaraja menanam padi bulu berumur 6 (enam) bulan.  Untuk mendukung pertumbuhannya yang membutuhkan  periode waktu yang cukup panjang maka air dalam jumlah yang cukup harus tersedia. Air disediakan petani dengan cara menampung air hujan pada embung-embung yang berada di tengah sawahnya.
Jumlah embung rakyat yang terdapat di kabupaten Lombok Timur sebanyak 1.458 buah dengan luas areal genangan 755,58 ha dan luas areal irigasi 3.083,38 ha (Dinas Pekerjaan Umum, 2005). Berarti luas pemilikan embung per petani rata-rata seluas 0,51 ha dan luas areal irigasi rata-rata 2,1 ha.  Sedangkan di Desa Sukaraja jumlah jumlah embung yang ada adalah 440 buah dengan luas 342 ha.
Posisi penempatan embung umumnya di tengah sawah atau dibagian ujung sawah pada elevasi yang lebih tinggi dari sawah yang akan diairi. Posisi penempatan embung ditengah sawah atau disalah satu sisi sawah yang memiliki elevasi lebih tinggi, bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah disekeliling sawah. Keuntungan lain dari posisi penempatan embung seperti tersebut, mempermudah pendistribusian air kepetakan-petakan sawah disekitarnya. Distribusi air cukup dengan membuka pintu air dan  proses pengaliran air hanya mengandalkan tekanan  volume air yang ada di embung. Kedalaman embung berkisar antara 1,00 – 1,50 m. Dalam proses pembuatannya dasar embung dibuat bertingkat. Untuk embung yang terletak di ujung sawah, dasar embung terdalam dibuat dalam bentuk parit yang ditempatkan pada salah satu sisi dinding embung bagian dalam yang berbatasan dengan sawah yang akan diari, sedangkan untuk embung yang terletak di tengah sawah bagian terdalam dibuat berbentuk parit mengikuti keliling dinding embung bagian dalam, dasar embung bagian tengah merupakan bagian terdangkal.
Di sekeliling dinding (pematang) embung ditanami pohon bambu atau tanaman lainnya. Tujuan petani menanam bambu disekitar embung antara lain: sebagai tangkapan air hujan, mengurangi penguapan dimusim kemarau dan akar bambu sebagai penguat pematang. Rimbunnya pohon bambu ditengah sawah, adalah sebagai tanda bahwa ditengah sawah tersebut terdapat sebuah embung.
Pembuatan embung sebelum masuknya varietas padi genjah berumur 3 bulan dimaksudkan untuk mengairi padi bulu yang berumur 6 bulan. Karena umurnya yang panjang, sampai memasuki musim kemarau kedua, air dalam jumlah cukup harus tersedia untuk mendukung pertumbuhannya. Air untuk itu disediakan melalui embung karena musim penghujan sudah berhenti. Disamping untuk keperluan pertanian air embung dimanfaatkan juga untuk memenuhi kebutuhan air bersih keluarga, minum ternak, merendam bambu sebagai bahan pembuatan rumah dan lain sebagainya. Masuknya varietas padi unggul umur ± 3 bulan yang ditanam pada musim hujan dan berkembangnya pola tanam petani menjadi padi – tembakau – bera, dimana seperti kita ketahui bahwa tanaman tembakau yang ditanam pada musim kemarau pertama adalah tanaman yang membutuhkan air relatif sedikit  sehingga ketersediaan air di embung cukup untuk pertumbuhannya. Penggunaan air embung terbanyak yaitu pada saat pemupukan padi dan pada saat penanaman tembakau. 
Sistem distribusi air pada embung rakyat belum mengikuti suatu aturan yang khusus, karena pemilikan embung bersifat pribadi maka sistem distribusi dan pemanfaatannya tergantung pada kepentingan setiap individu.  Walaupun kepemilikannya secara individu, air embung dapat dimanfaatkan secara bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya atau dengan petani lainnya  yang memerlukan air.  Permintaan air embung biasanya terjadi saat pemupukan padi, penanaman dan pemupukan tembakau.
Periode tampung air embung efektif dari  bulan Januari – Mei. Sisa air pada bulan Juni - Juli sekitar sepertiga dari kapasitas embung hanya dipergunakan untuk  air minum ternak. Air embung mengering pada bulan Agustus sampai dengan pertengahan Desember.
Optimalisasi Pemanfaatan Air Embung untuk Usahatani Lahan Kering
Keberadaan embung sangat dirasakan manfaatnya oleh petani di Desa Sukaraja dalam melakukan usahataninya. Pola tanam yang biasa dilakukan oleh petani adalah padi – tembakau – bera.  Padi merupakan komoditas utama yang ditanam petani pada musim penghujan dengan alasan untuk penyediaan pangan bagi keluarga sedangkan pada musim kemarau petani umumnya menanam tembakau dengan alasan komoditas ini dirasakan sangat menguntungkan jika dibandingkan komoditas palawija lainnya. Air embung pada musim penghujan praktis belum banyak dimanfaatkan karena kondisi tanaman padi masih memungkinkan untuk mengandalkan air hujan.
Pola tanam padi – tembakau yang sudah biasa dilakukan oleh petani di Desa Sukaraja dapt dikembangkan mengingat hal tersebut sudah dilaksanakan dan dirasakan manfaatnya oleh petani. Penanaman padi yang dilakukan pada musim penghujan belum banyak mempengaruhi keberadaan air embung karena kebutuhan air tanaman padi masih dapat dipenuhi oleh air hujan. Pada masa penanaman berikutnya yaitu komoditas tembakau, petani sudah mulai mempergunakan air embung dalam mendukung usahataninya. Dalam pemanfaatan air embung ini perlu dilakukan upaya efisiensi pemakaian air, menurut Hardjoamidjoyo (1994) upaya peningkatan efisiensi pemakaian air dapat diakukan dengan mengubah sistem penyaluran atau sistem pemberian airnya yang didukung oleh pemilihan jenis tanaman, masa tanam serta manajemen yang tepat. Sistem low flow manajemen merupakan salah satu metoda yang dapat ditempuh yaitu pendayagunaan air irigasi secara efisien melalui penghematan pemberian air bagi tanaman mendekati kebutuhan fisiologisnya (Hermanto, et al, 1995). Anjuran pemberian air pada tanaman tembakau khususnya untuk tanaman tembakau Madura pada ahan kering adalah 0,5 l/tanaman/pemberian dengan pemberian tiap hari sampai umur 20 hari dan diikuti dengan penyiraman 2 lt/tanaman/ pemberian yang diberikan pada periode 21 – 40 hari (tiap dua hari), 41 – 50 (tiap 2 hari) dan 50 – 60 hari (tiap 3 hari) atau total pemberian air sebesar 66 mm (Rahman, et al. 1992). Efisiensi penggunaan air ini perlu dilakukan mengingat periode tampung air efektif embung 5 bulan yaitu dari  Januari - Mei. Sisa air pada bulan Juni - Juli sekitar sepertiga dari kapasitas embung. Air embung mengering pada bulan Agustus sampai dengan pertengahan Desember. Dengan demikian  masa  produktif embung adalah 7 bulan.
Introduksi tanaman sayuran yang bernilai ekonomis tinggi seperti bawang merah, bawang putih, kacang panjang dan buah-buahan seperti semangka diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani di sekitar embung. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan di Bali introduksi pemanfaatan air embung dengan tanaman sayuran yang bernilai eknonomis tinggi dapat meningkatkan nilai tambah bagi petani. Dengan pengusahaan lahan yang relative sempit mampu memberikan keuntungan bagi petani, bawang merah (Rp. 240.000) kacang panjang (Rp. 82.725), semangka (Rp. 101.700) dan mentimun (Rp. 55.975) per 100 m2 (Suprapto, 2004). Usaha ini perlu dilakukan pada lahan-lahan sempit disekitar embung untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus untuk meningkatkan pemenuhan gizi keluarga. Pengusahaan lahan disekitar embung untuk tanaman sayuran adalah usaha sampingan selain petani tetap mengusahakan tembakau pada MK I.
Disamping untuk mendukung usaha pertanian air embung dapat juga digunakan untuk mendukung sektor peternakan di Desa Sukaraja. Desa Sukaraja jenis ternak yang banyak diusahakan penduduk desa Sukaraja antara lain  sapi, kerbau, kambing, ayam buras dan itik/entok. Jenis ternak dominan yang diusahakan adalah kambing dengan jumlah pemilikan antara 3 – 5 ekor per rumah tangga. Jenis ternak urutan kedua yang banyak di pelihara adalah sapi Bali dengan jumlah pemilikan 1 – 2 ekor per rumah tangga. Ternak dari jenis unggas yang dominan dipelihara adalah ayam buras (Puspadi et al 2004). Saat ini terjadai kecendrungan menurunnya populasi ternak yang terdapat di desa Sukaraja, khususnya ternak sapi. Menurunnya jumlah populasi ternak salah satunya disebabkan oleh keterbatasan pakan hijauan ternak. Untuk mengatasi kelangkaan hijauan pakan pada musim kemarau dapat dilakukan penanaman hijaun pakan ternak di pematang sekitar embung. Penanaman hijauan pakan ini dapat dilakukan karena tingkat kelembaban tanah disekitar embung masih memungkinkan untuk pertumbuhan tanaman seperti rumput gajah, turi dan lamtoro. Hijauan pakan inilah yang nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi ternak di musim kemarau khususnya untuk ternak kambing yang merupakan ternak dominan di daerah tersebut.
Keberadaan air embung pada musim penghujan yang belum banyak digunakan untuk mendukung usahatani tanaman pangan dapat juga dimanfaatkan untuk pemeliharaan ikan dalam karamba. Periode efektif air embung selama 5 bulan dengan kondisi air masih penuh merupakan waktu yang cukup untuk satu siklus pemeliharaan ikan karper dan nila dengan sistem karamba atau kurungan tancap dari bambu. Panen ikan adalah memungut hasil setelah periode pemeliharaan berakhir. Pemeliharaan untuk setiap jenis ikan berbeda tergantung pada ukuran benih yang ditebar dan kecepatan pertumbuhannya. Ikan Mas dapat dipanen setelah pemeliharaan selama 3 – 5 bulan, ikan nila 3 – 4 bulan, ikan tawes selama 5 bulan. Pada prinsipnya ikan dipanen setelah mencapai ukuran yang menguntungkan jika dipasarkan. Ikan-ikan dipanen dengan menggunakan seser atau serok dengan cara diciduk. Kemudian ikan tersebut dimasukkan ke dalam keranjang penampung untuk kemudian dipasarkan. Selain untuk budidaya ikan keberadaan mebung dapat juga dimanfaatkan untuk kolam pemancingan ikan.  Usaha pemancingan pada embung di kabupaten Lombok Timur sudah berkembang selama 4-5 tahun yang lalu. Dengan mengambil contoh pendapatan yang diterima petani dari usaha pemancingan di desa Sukaraja dapat mencapai antara Rp. 1.700.000,- sampai dengan Rp. 2.000.000,- Pendapatan tersebut diterima petani dari tarif yang dikenakan pada setiap pemancing sebesar  Rp. 30.000,- untuk pemancingan pertama dan biaya pemancingan selanjutnya diturunkan setiap harinya. Untuk embung seluas 50-60 are dapat menampung 30 – 40 orang pemancing, sehingga dari bibit ikan seharga Rp. 300.000,- (antara 1.000 sampai dengan 2.000 ekor) yang ditebar di embung, petani dapat menerima pendapatan kotor senilai Rp. 3.000.000,-.  Disamping sistem pengenaan tarif per orang, sistem pemancingan dilakukan secara borongan kepada group pemancing yang beranggota antara 30 – 40 orang, harga borongan berkisar kurang lebih Rp. 2.000.000,- Biaya produksi yang dikeluarkan petani hanya untuk pembelian benih ikan, biaya untuk pakan tidak dikeluarkan petani karena ikan hidup dari jazad renik air embung (Wisnu. I. M, et al. 2005)

KESIMPULAN
1.      Lahan pertanian di Desa Sukaraja sebagian besar merupakan lahan sawah tadah hujan
2.      Embung merupakan salah satu kearifan lokal di Desa Sukaraja yang perlu dioptimalkan pemanfaatanya dalam mendukung usahatani
3.      Pemanfaatan embung untuk mendukung pola tanam padi – tembakau yang eksisting di daerah tersebut perlu dilakukan upaya efisiensi pemakaian air.
4.      Introduksi penanaman tanaman sayuran ekonomis tinggi dapat dilakukan oleh petani dengan mengambil sedikit lahan disekitar embung sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan keluarga
5.      Disamping untuk pertanian keberadaan embung dapat dimanfaatkan untuk usaha peternakan dan perikanan dalam rangka peningkatan pendapatan petani
DAFTAR PUSTAKA
Alkusuma, Agus Bambang Siswanto, Adi Hermawan, Asep Iskandar, 2004. Laporan Akhir Penyusunan Peta Pewilayahan Komoditas Pertanian Berdasarkan Zone Agro-Ekologi Skala 1 : 50.000 di Kabupaten Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat. Tahun Anggaran 2003. Bagian Proyek Penelitian Sumberdaya Tanah dan Poor Farmers Income Improvement Through Inovation Project. Balai Penelitian Tanah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. 2004.
BPS.  2002. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka. Kerjasama Kantor Perwakilan Biro Pusat Statistik Propinsi NTB dengan Kantor Bappeda TK.I. NTB.
BPS Kabupaten Lombok Timur, 2003. Lombok Timur Dalam Angka. Lombok Timur In Figures. Kerjasama Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur dengan Bappeda Kabupaten Lombok Timur. 2003.
Dinas Pekerjaan Umum Lombok Timur. 2005a. Daftar Iventaris Jaringan Irigasi Kabupaten Lombok Timur tahun 2005 Berdasarkan Tingkatan Luas Layanan. Subdin Pengairan Dinas Pekerjaan Umum. Selong.
Dinas Pekerjaan Umum Lombok Timur. 2005b. Daftar Iventaris Jumlah Embung Pemerintah dan Embung Rakyat di Kabupaten Lombok Timur. Subdin Pengairan Dinas Pekerjaan Umum,. Selong.
Hardjoamidjoyo. 1994. Irigasi daam Swasembada Air dan Lahan dalam Rangka Mengatasi Kekeringan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Hermanto, Sumaryanto dan Effendi Pasandaran. 1995. Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Rangka Menunjang Pemantapan Swasembada Pangan. Prosiding Simposium Meteorologi Pertanian IV. Yogyakarta 26 – 28 Januari 1995. Perhimpunan Metorologi Pertanian Indonesia.
Hidayat Pawitan dan Daniel Murdiyarso, 1997. Tinjauan Hidrologi Toposekuens Dalam Meningkatkan Efisiensi Pemakaian Air Pertanian. Sumber Daya Air dan Iklim Dalam Mewujudkan Pertanian Efisien. Kerjasama Departemen Pertanian Dengan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI).
Iis Syamsiah dan A. M. Fagi., 1997. Teknologi Embung. Sumber Daya Air dan Iklim Dalam Mewujudkan Pertanian Efisien. Kerjasama Departemen Pertanian Dengan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI).
Parimawati, E., 2001. teknik Pemanenan Aliran Permukaan (run-off harvesting) di Lahan Kering Pringgabaya. Skripsi Fakultas Pertanian Unram.
Puspadi, 2004. Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif (PRA) di Wilayah Poor Farmers Lombok Timur, Laporan Akhir Penelitian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian.
Rahman, A. M. Sholeh dan Suwarso. 1992. Pengaruh Intensitas Pemberian Air dan Tingkat Pemupukan N terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Mutu Tembakau Rajangan Madura di Lahan Sawah. Laporan Penelitian Kerjasama Balittas Malang. 20 pp.
Suprapto. 2004. Pengkajian Sistem Usahatani di Lahan Kering di Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, Bali. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian vol 7 no 1: 83 - 89. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian.


Untuk men download full dokument, silahkan anda klik link di bawah ini :
download[4]

Artikel Terkait:

0 Responses to "OPTIMALISASI EMBUNG DALAM PENGEMBANGAN USAHATANI LAHAN KERING DI NTB"

Poskan Komentar