OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA


OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN  MEDIA CETAK LOKAL
DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA 
(Survei di Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo)

Oleh : IDAWATI PANDIA

 Abstrak

Penelitian  Opini Publik Mengenai Peran  Media Cetak Lokal  Dalam Pembangunan     Pertanian Hortikultura  ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif.Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat di dua desa di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang membaca media cetak lokal. Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat di dua desa yang menjadi lokasi penelitian, ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan pertanian hortikultura. Keberadaan media massa cetak lokal masih dapat dan sangat diharapkan oleh masyarakat dalam mendorong suksesnya pembangunan pertanian hortikultura, apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pangsa pasar produk pertanian dan informasi tentang agrobisnis dan budidaya pertanian hortikultura. Peran inilah yang sangat diharapkan masyarakat yang dapat ditangkap dan diisi oleh media massa cetak lokal. Namun ini masih terkendala karena terbatasnya sirkulasi dan keterlambatan media lokal sampai ke masyarakat terutama masyarakat pedesaan.

Kata–kata Kunci : Opini Publik,Media Lokal Pertanian, Hortikultura.

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu masalah yang banyak dibicarakan dan masih  aktual serta menarik perhatian di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara adalah masalah pembangunan. Dan sudah barang tentu untuk mensukseskan pembangunan ini diperlukan peranan pers atau peranan media massa dalam menyampaikannya ditengah – tengah masyarakat. Dengan kata lain, seharusnyalah media yang tangkas dan wartawan yang profesional sudah pasti sangat diperlukan karena memainkan fungsi, peran dan kewajiban yang amat menentukan, sehingga pelaksanaan pembangunan itu dapat berjalan dengan baik, layak dan mempunyai wibawa. Hal ini perlu diperhatikan dengan baik agar pembangunan ini tidak berjalan dengan semaunya saja ataupun sampai kebablasan. Kalau hal ini sampai terjadi, sudah tentu pembangunan ini  akan menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat.
Kemudian perlu diingat bahwa media yang sehat tentu saja menjadi mutlak kehadirannya untuk mendorong agar pelaksanaan pembangunan itu  juga menjadi sehat, kuat dan bermartabat. Jadi keduanya, media dan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari perkembangannya. Oleh karena itu kebebasan pers yang sehat ( healthy press freedom ) menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan yang sehat pula. Sebaliknya pembangunan yang sehat sudah jelas sangat membutuhkan kebebasan pers yang sehat pula.
Pelaksanaan pembangunan daerah yang demokratis digerakkan oleh tiga pilar utam yang saling berkaitan. Ketiga pilar utama dalam gerakan pelaksanaan pembangunan  itu adalah sebagai berikut : pertama, institusi pemerintah daerah. Pilar utama yang
pertama ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembangunan. Sudah tentu semua kebijakan yang menyangkut pelaksanaan pembangunan daerah berada di institusi pemerintah daerah terutama Bupati dan Walikota. Kedua, institusi pers. Pilar utama yang kedua ini juga mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam pembangunan daerah. Melalui media massa yang ada, instutusi pers seperti suratkabar dan televisi turut menentukan berhasil tidaknya pembangunan daerah tersebut.
Ketiga, masyarakat. Pilar utama yang ketiga ini ikut pula menentukan keberhasilan pembangunan. Tanpa keikutsertaan masyarakat, pers tidak akan berkembang, lalu pemerintah daerah akan sulit menentukan arah dan kebijaksanaan pembangunan. Akibatnya pembangunan daerah pun akan mandeg. 
Salah satu kabupaten yang sangat intens memperhatikan keberlangsungan pembangunan di Sumut adalah Kabupaten Karo. Kabupaten Karo adalah kabupaten yang sangat didominasi oleh sektor pertanian yaitu sub sektor pertanian tanaman pangan dan palawija, sub sektor hortikultura, perkebunan, peternakan dan sebagian kecil perikanan darat ( air tawar ). Jumlah rumahtangga yang berusaha disektor ini berkisar antar 70 persen sampai dengan 74 persen ( BPS, 2006, 10 ). Kontribusi pertanian yang diberikan Kabupaten Karo pada Propinsi Sumatera Utara persentasenya cukup besar. Dengan melihat hal tersebut, sudah sepantasnya Kabupaten Karo memiliki corong yang kuat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa, potensi wisata dan pertanian yang lebih luas dalam merencanakan dan mengelola sumber daya yang dimiliki dan untuk memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah pada perkembangan pembangunan kerakyatan.
Pemerintah Kabupaten Karo menetapkan salah satu misi pembangunannya yang berbunyi ” Mengembangkan secara optimal pertanian, pariwisata, industri dan perdagangan berbasis agrobisnis yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan dan rehabilitasi lahan yang kritis ( BPS, 2006, 10 ). Misi ini tidak akan terwujud secara efektif tanpa fungsi dan peranan pers, khususnya yang tersebar pada masyarakat Kabupaten Karo. Adapun jenis media cetak lokal yang turut mewarnai dan memberikan informasi bagi masyarakat, khususnya di Kabupaten Karo antara lain ; Majalah Sibayak Pos terbitan Brastagi, Tabloid Karo Membangun, Dinas Infokom, Info Karo, Humas Pemkab Karo, Sora Mido, dan Sirulo ( sumber : Dinas Infokom Karo ). Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas dan mengingat bahwa salah satu fungsi pers yaitu sebagai fungsi kontrol,sehingga opini publik menjadi sangat penting bagi pemerintah didalam melakukan perencanaan pembangunan,maka penulis tertarik dan merasa penting untuk melakukan penelitian bagaimana opini publik mengenai peran media cetak lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura ini.

B. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimana pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura ?
2.      Bagaimanakah opini publik mengenai peran  media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan  bidang pertanian hortikultura.
3.      Apakah kendala yang dihadapi masyarakat tentang  media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan  bidang pertanian hortikultura.

C. Tujuan Penelitian

Sebagai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui bagaimanakah pemanfaatan media cetak lokal sebagai   sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura.
2.      Untuk mengetahui bagaimana opini publik mengenai peran  media massa cetak lokal  sebagai sumber informasi  pembangunan bidang pertanian hortikultura.
3.      Untuk mengetahui kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura.

D. Manfaat Dan Sasaran penelitian

Manfaat Penelitian
1.      Sebagai bahan masukan berupa data dan informasi bagi pemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika RI untuk membuat kebijakan dalam bidang komunikasi massa mendatang.
2.      Sebagai referensi bagi BBPPKI Medan dan instansi – instansi yang terkait untuk bahan kajian lanjutan.

Sasaran
Adapun sasaran dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Secara tidak langsung masyarakat ikut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura, ikut memberhasilkan pembangunan daerah yang terrencana dan terarah.
2.      Adanya kebebasan pers yang sehat menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan bidang pertanian yang sehat pula.
3.      Terwujudnya pelaksanaan pembangunan yang berjalan dengan baik, layak dan berwibawa.

E. Kerangka Teori
Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca suratkabar. Tabloid dan majalah lokal. Dalam penelitian ini,model Teori Normatif,yaitu Teori Media Pembangunan diadaptasi untuk meneliti bagaimana Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura.
Teori Normatif (cabang filsafat sosial) yang lebih berkenan dengan masalah bagaimana seharusnya media berperan bilamana serangkaian nilai sosial ingin diterapkan dan dicapai dengan sifat dasar nilai-nilai sosial tersebut.Jenis teori ini penting karena ia memang berperan dalam membentuk institusi media dan berpengaruh besar dalam menentukan sumbangsih media,sebagaimana yang diharapkan oleh publik media itu sendiri dan organisasi,serta para pelaksana organisasi sosial itu(McQuail,1994:4).
Teori media pembangunan adalah penerimaan pembangunan ekonomi itu sendiri (yang karenanya perubahan sosial),dan sering kali “pembangunan bangsa” (nation-building)yang bersangkutan,sebagai tujuan utama.Untuk mencapai tujuan tersebut,kebebasan tertentu dari media dan para wartawan tunduk pada tanggung jawab  mereka untuk membantu pencapaiannya.Pada saat yang sama,yang ditekankan adalah tujuan kolektif dan bukan kebebasan  individu.Unsur yang relatif baru dalam teori media pembangunan adalah penekanan pada “hak untuk berkomunikasi,”yang didasarkan atas Pasal 17 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia: Setiap orang memiliki hak mengeluarkan pendapat:hak ini mencakup kebebasan menganut pendapat tanpa ganguan dan kebebasan untuk mencari, menerima,dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media manapun tanpa mempersoalkan batas negara.”Meskipun sukar menemukan kasus-kasus individu yang jelas menunjukkan teori media pembangunan,prinsip utama teori ini dapat diungkapkan sebagai berikut:

1.      Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional.
2.      Kebebasan media seyogyanya dibatasi sesuai dengan (1) prioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat.
3.      Media perlu memprioritaskan isinya pada kebudayaan dan bahasa nasional.
4.      Media hendaknya memperioritaskan berita dan informasinya pada negara sedang berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis,kebudayaan,atau politik.
5.      Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya.
6.      Bagi kepentingan tujuan pembangunan,negara memiliki hak untuk campur tangan dalam,atau membatasi,pengoperasian media serta sarana penyensoran,subsidi,dan pengendalian langsung dapat dibenarkan.

Sementara pengguna media itu sendiri adalah orang-orang yang berpikiran rasionalyang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan.Ada beberapa katagori kebutuhan individu,yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media,kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch (Marshall,Jr,2000) yakni:

a.       Kebutuhan kognitif; kebutuhan akan informasi,pengetahuan,dan pengertian tentang lingkungan sekitar.
b.      Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi,kesenangan,atau pengalaman keindahan.
c.       Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas, kepercayaan diri,kesetian, dan status pribadi.
d.      Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga,teman,dengan alam sekitar.
e.       Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan, melepaskan ketegangan, kebutuhan akan hiburan.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara, yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek.
f.       Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi,hiburan dan intraksi sosial.

Dari kerangka pemikiran inilah, peneliti akan menguraikan permasalahan bagaimana opini publik mengenai peran media  lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura di Kabupaten Karo.

F. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstark yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta – fakta yang diperoleh dari pengamatan. Bungin,” Mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Sedangkan Kerlinger, menyebutkan konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal – hal khusus. Jadi konsep merupakan sejumlah ciri atau standar umum suatu objek.” ( Kriyantono, 2006 : 17 ). Berdasarkan kerangka teroritis diatas, adapun konsep – konsep dalam penelitian ini sebagai berikut 
Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Opini merupakan ” expressed statement ” yang bisa diucapkan dengan kata – kata, isyarat atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya ( Meinanda, 1980, 29 ). Ini berarti opini harus dinyatakan, dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yakni :
1.      Ada pernyataan
2.      Mengenai masalah yang bertentangan
Disamping itu juga, opini dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi, radio maupun suratkabar atau majalah. Karena opini mempunyai ciri – ciri antara lain :
1.      Mempunyai pendukung dalam jumlah besar.
2.      Selalu diketahui dari pernyataan – pernyataan.
3.      Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat.

Sehingga opini ini bisa ditemukan dari berbagai kalangan. Selanjutnya suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik, sebab sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses dalam diri manusia, sehingga masih merupakan sikap, Irish dan Protho ( Susanto, 1985, 92 ). Jadi yang dimaksud dengan opini publik adalah pendapat atau sikap masyarakat terhadap suatu masalah atau organisasi, dimana pembentukan opini publik melalui berbagai hal, pelayanan terhadap publik, opinion leader dan kegiatan komunikasi ( Hardiman, 2006, 87 ). Opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur – unsur sebagai berikut :
1.      Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan pro  dan kontra.
2.      Adanya kesempatan bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tersebut
3.      Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya.

“Opini dan perasaan rakyat dapat disalurkan kedalam program – program pemerintah, sebab bagaimanapun yang berhubungan dengan fakta dilapangan adalah masyarakat – masyarakat yang mempunyai opini dan emosi “ ( Lipmann, Walter, 1998, 235 ).
Sementara, berbicara tentang fungsi media massa, Harold Lasswell dan Charles Wright merupakan sebagian dari pakar yang benar – benar serius mempertimbangkan fungsi dan peran media massa dalam masyarakat. Wright          ( 1959 ) membagi media komunikasi berdasarkan sifat dasar pemirsa, sifat dasar pengalaman komunikasi, dan sifat dasar pemberi informasi. Lasswell     ( 1984, 1960 ),      pakar komunikasi dan profesor hukum di Yale University mencatat ada 3 fungsi media massa, pengamatan lingkungan, korelasi bagian – bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain ketiga fungsi ini, Wright menambahkan fungsi keempat yakni hiburan ( Severin, 2005, 386 )
Media massa yang dimaksud disini adalah media massa cetak ( printed mass media ). Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media massa tercetak, maka kita harus terlebih dahulu memahami bahwa pers adalah lembaga kemasyarakatan ( social institution ) dan merupakan sub sistem dari kemasyarakatan dimana ia berada, bersama – sama dalam sub sistem lainnya. Dengan demikian maka pers tidak hidup secara sendiri, melainkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga – lembaga kemasyarakatan lainnya. Bersama – sama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya, pers berada dalam keterikatan organisasi bernama negara. Karenanya eksistensi pers dipengaruhi, bahkan ditentukan oleh falsafah negara dan sistem politik negara dimana pers itu hidup. Pers di negara mana dan dimasyarakat mana, ia berada sama – sama mempunyai fungsi universal yakni :
1.   Memberikan Informasi ( to inform )
      Menyiarkan informasi adalah tugas suratkabar yang pertama dan utama. Khalayak pembaca berlangganan atau membeli suratkabar karena memerlukan informasi mengenai berbagai hal di bumi ini mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan orang lain, apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya.
2.   Mendidik ( to educate )
      Sebagai sarana pendidikan massa ( mass education ), suratkabar memuat tulisan – tulisan yang mengandung pengetahuan, sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini bisa secara implisit dalam bentuk berita, dapat juga secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana
3.   Fungsi Menghibur ( to entertaint )
      Hal yang bersifat hiburan sering dimuat suratkabar untuk mengimbangi berita – berita berat ( hard news ) dan artikel – artikel yang berbobot. Maksud pemuatan isi yang mengandung hiburan itu semata – mata untuk melemaskan ketegangan pikiran setelah para pembaca dihidangi berita dan artikel yang berat – berat.
1.      Mempengaruhi ( to influence )
      Fungsi mempengaruhi, menyebabkan suratkabar memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Secara implisit terdapat pada berita, sedangkan secara eksplisit terdapat pada tajuk rencana dan artikel
5.   Pengawasan ( social control )
      Jika suratkabar benar melaksanakan tugas sosial kontrolnya, akan banyak tantangan yang harus dijawab dengan sikap yang berani dan bijaksana. Dalam suatu situasi, suratkabar bisa dihadapkan kepada dua alternatif, mati terhormat karena memang prinsip, atau hidup tidak terhormat disebabkan tidak mempunyai kepribadian ( Effendi, Onong, 1981, 94 )

Pengertian Pembangunan

Sukses tidaknya perencanaan pembangunan daerah itu sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari media massa didalamnya. Kenapa seperti itu, karena pemerintah, pers dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lain.
Secara garis besar bisa diidentifikasikan tiga pola pemikiran dan praktek pembangunan yang berkembang di Indonesia,yang masing –masing menekankan pendekatan berbeda,yaitu penekanan politik,ekonomi,dan moral sebagai panglima (Mastur Yahya).
Menurut Totok Mardikanto:Pembangunan didefinisikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan – perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat,terutama untuk jangka panjang.Upaya ini dilaksanakan oleh pemerintah yang didukung oleh partisipasi masyarakatnya,dengan menggunakan teknologi yang terpilih.Sedangkan Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai proses pemecahan masalah,baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalam setiap jenjang birokrasi pemerintah,dikalangan peneliti dan penyuluh,maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat(Mastur Yahya).
Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat (beneficiaries) pembangunan.Sedangkan definisi kedua menyiratkan bahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat,melainkan diperuntukkan pula bagi segenap Stake holder.Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunan bertujuan merubah”keadaan” masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi,maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan. 

Sektor Pertanian Hortikultura

Mengingat bahwa perekonomian masyarakat Karo sangat didominasi oleh sektor pertanian, dimana sampai saat ini sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 60 persen setiap tahun bagi pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) Kabupaten Karo. Adapun sub sektor yang dominan bagi sektor pertanian yang disoroti disini adalah sub sektor hortikultura. Hortikultura berasal dari kata ” hortus ” ( garden atau kebun ) dan ” colore ” ( = to cultirate atau budidaya ). Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah – buahan, sayuran dan tanaman hias (Edmon et al, 1975), sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari tentang budidaya buah – buahan, sayuran dan tanaman hias. Sedangkan dalam GBHN 1993 – 1998, selain buah – buahan, sayuran dan tanaman hias yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat – obatan. Su’ud Hassan, 2007 mengatakan bahwa hortikultura terdiri dari :

A. Tanaman Buah – Buahan
      Ilmu yang mempelajari tentang tanaman buah – buahan disebut pomologi, sedangkan orang – orang yang mengusahakannya disebut pomologist. Pengertian buah pada hortikultura agak berbeda dengan pengertian buah pada ilmu botani, ataupu ekonomi. Umpamanya mentimun dalam arti botani adalah buah, tetapi dalam arti hortikultura tergolong kedalam sayur – sayuran. Begitu juga dengan buah labu dalam hortikultura dan buah tomat di Indonesia termasuk dalam golongan buah, tetapi di negara yang sudah maju digolongkan kedalam sayur – sayuran. Dengan demikian yang digolongkan kedalam buah dinegara ini adalah buah yang dihasilkan oleh tanaman tahunan ( perennial crops )
B. Tanaman Sayur – Sayuran
      Ilmu yang mempelajari tentang tanaman sayur – sayuran disebut olericulture dan orang yang mengusahakannya disebut olericulturist. Pengertian bahwa sayur – sayuran hanyalah hasil yang dipanen dari tanaman tahunan ( annual crops ) atau tanaman muda/semusim baik yang menghasilkan buah, batang, umbi dan lain – lain tidaklah tepat. Ini dikarenakan ada juga sayur – sayuran yang dipetik dari tanaman tahunan seperti melinjo dan daun jambu mete, daun kangkung, sebangsa pakis dan lain – lain.
C. Tanaman Bunga
      Ilmu yang mempelajari bunga – bungaan disebut floricultura, sedangkan orang yang mengusahakan disebut floricultureti, tidaklah semata – mata berarti suatu bidang tanaman bunga – bungaan, tetapi juga tanaman yang tidak berbunga yang biasanya dipergunakan untuk menghiasi baik berupa semak – semak maupun rumput – rumputan.

Hal – hal lain yang termasuk kedalam hortikultura :
1.      Land scaping : meliputi planning dan pengaturan daripada pekerjaan, tempat tinggal dan tanam tanaman umum, juga letak bangunan – bangunannya, jalan, pangan, taman untuk rekreasi dan lain – lain.
2.      Pemeliharaan tanaman – tanaman dalam taman,  kebun ( nursery production ). Meliputi seluruh tanaman dalam bidang hortikultura.
3.      Seed Production, merupakan bagian penting terutama untuk benih–benih sayur–sayuran dan bungan–bungaan, untuk menghasilkan benih sayur – sayuran dan bunga – bungaan daerah tropis bukanlah suatu hal yang mudah, bahkan sering tidak berhasil sama sekali. Kebanyakan tanaman sayuran baru mau berbuah ( menghasilkan biji ) didaerah – daerah dingin, sehingga untuk Indonesia benih – benih terpaksa diimpor.
4.      Pengolahan dan penyimpanan hasil ( processing and storage ). Ini merupakan bagian penting pada hortikultura, karena hampir semua hasil hortikultura bersifat tidak tahan lama, sehingga perlu adanya pengalengan oleh industri – industri.

Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber utama, mineral dan protein ( dari buah dan sayur ), serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tentram, ketenangan hidup dan estetika ( dari tanaman hias/bunga ). Sedangkan peranan hortikultura adalah :
1.  Memperbaiki gizi masyarakat.
2.  Memperbesar devisa negara
3.  Memperluas kesempatan kerja
4.  Peningkatan pendapatan petani dan,
5.  Pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan

Namun ketika kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hortikultura yaitu :
1.      Tidak dapat disimpan lama
2.      Perlu tempat yang lapang ( voluminous )
3.      Mudah rusak ( perishable ) dalam pengangkutan
4.      Melimpah ruah pada suatu musim dan langka pada musim lainnya
5.      Fluktuasi harganya tajam ( www.pertanian.uns.ac.id /~agronomi /dashor.html )

Dengan mengetahui manfaat serta sifat – sifatnya yang khas, dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik, maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut. Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki prospek yang sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia dimasa mendatang. Oleh karena itu kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. Seperti halnya negara – negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok, Belanda dengan bunga tulipnya, Nikaragua dengan pisangnya, bahkan Israel dari gurun pasirnya, kini telah mengekspor apel, jeruk, anggur dan lain sebagainya. Sementara pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional, sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. Cakupan sub sektor hortikultura yang  dominan diusahakan oleh masyarakat Karo adalah tanaman sayuran dan buah – buahan yang meliputi tomat, kol, kentang, petsai/sawi, cabe, buncis, wortel, bawang prei, arcis, jeruk, markisah dan pisang.

G. Metodologi Penelitian

1. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian seseorang, lembaga, masyarakat dan lain lain pada saat sekarang berdasarkan fakta – fakta yang nampak atau sebagaimana adanya ( Nawawi, 1983,63 ). Tegasnya penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu

2. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian ini hanya di fokuskan  pada 2 desa , di kecamatan Simpang Empat  Kabupaten Karo, yaitu Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti.  Kabupaten Karo terdapat 13 kecamatan yaitu : Mardinding, Laubaleng, Tiga Binanga, Juhar, Munthe, Kutabuluh, Payung, Simpangempat, Kabanjahe, Brastagi, Tiga panah, Merek, Barusjahe.
Dari 13 Kecamatan diatas, saya mempurposive Kecamatan Simpang Empat sebagai lokasi penelitian.Dipilihnya hanya satu kecamatan mengingat kecamatan tersebut :
a. Masyarakatnya betul–betul masyarakat petani yang bergerak dibidang pertanian hortikultura
b.   Berdasrkan data yang ada dikecamatan, desa                                                                             ini paling banyak  masyarakatnya  bergerak dalam bidang pertanian  hortikultura .
c.   Transportasi dari pusat ibukota propinsi ( Medan ke Kabupaten Karo ) bisa ditempuh dalam beberapa menit.

3. Populasi dan Sampel

Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh masyarakat petani holtikultura di desa Ndokum Siroga dan desa Surbakti ,yaitu sebanyak 900 orang.

Sampel
Sampel dalam penelitian ini diambil melalui Teknik Pemilihan Sampel secara purposive ( purposive sampel technique ) . Teknik purposive adalah suatu teknik yang mencakup orang – orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian ( Kriyantono, 2006, 154 ),maka kriteria yang ditentukan adalah masyarakat yang betul-betul petani holtikultura,dengan besar sampel 10% dari Populasi yaitu sebanyak 90 orang, dimana dari 40 desa yang ada di Kecamatan Simpang Empat ditentukan 2         ( dua ) desa  yaitu :
a.       Desa Ndokum Siroga yang dianggap pertaniannya paling maju sebanyak 45 responden
b.      Desa Surbakti yang pertaniannya kurang maju sebanyak 45 responden

4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan melalui angket yang dipandu oleh enumerator ( pengumpul data ) dimana penulisan angket dilakukan melalui pertanyaan terbuka dan tertutup. Disamping itu untuk memperkaya data, juga dilakukan metode library research ( riset kepustakaan ) yaitu pencarian referensi/bahan – bahan dari buku – buku jurnal, hasil – hasil penelitian dan laman website yang berhubungan dengan materi penelitian ini.

5. Teknik Analisis Data

Sesuai dengan sifat dan tujuan dari penelitian ini,maka analisis penelitian dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam,dan akhirnya data lapangan yang telah diperoleh dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase.

H. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Letak geografis Kabupaten Karo berada diantara 250–319 Lintang Utara dan 9755– 9838 Bujur Timur dengan luas wilayah 2.127,25 Km. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian bersar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini, sehingga rawan terjadi gempa vulkanik. Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 – 1.400 meter diatas permukaan laut. Adapun batas – batas wilayah Kabupaten Karo adalah sebagai berikut :
a.   Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deliserdang
b.   Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Toba Samosir
c.   Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun
d.   Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam     ( NAD )

Kabupaten Karo terdiri dari 13 kecamatan yang dibagi menjadi 248 desa dan 10 kelurahan. Pusat pemerintahan Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe yang berjarang sekitar 67 kilometer dari Medan
Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut suku bangsa Karo. Suku bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi suku bangsa Karo sendiri. Suku ini terdiri dari 5 ( lima ) marga, tutur siwaluh dan rakut sitelu. Merga Silima itu yakni : Karo – Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin - angin. Dalam pekembangannya, adat suku bangsa Karo terbuka, dalam arti bahwa suku bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi suku bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. Saat ini wilayah Kabupaten Karo sudah didiami oleh beragam suku bangsa.
Perekonomian Kabupaten Karo sebagian besar adalah sektor pertanian. Sekitar 70 persen dari jumlah rumah tangga di Kabupaten ini berusaha disektor pertanian terutama bercocok tanam sayur – sayuran, buah – buahan, padi, palawija, hortikultura, tanaman perkebunan dan peternakan
1.      Kecamatan Simpang Empat
      Luas wilayah Kecamatan Simpang Empat adalah seluas 225,47Km yang terdiri dari 40 desa. Jarak dari kabupaten 7 kilometer. Jumlah penduduk 39.966 jiwa dan 10.834 rumahtangga ( RT ). Sejak Januari 2007, Kecamatan Simpang Empat telah dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) kecamatan
2.   Desa Ndokum Siroga
      Nama Kepala Desa : Supratman Surbakti, terdiri dari 2 ( dua ) dusun. Desa Ndokum Siroga adalah ibukota dari Kecamatan Simpang Empat. Luas Desa Ndokum Siroga adalah 2,97 Km, jumlah penduduk 1.969 jiwa yang terdiri dari 522 KK. Adapun mata pencaharian penduduk terdiri dari 491 KK ( 94% ) bertani dan sebanyak 31KK ( 6% ) adalah non tani. Sementara tingkat pendidikan di Desa Ndokum Siroga adalah : 45 orang tidak bersekolah, 60 orang SD sederajat, 160 orang SLTP sederajat, 85 orang SLTA sederajat dan 43 orang pernah ditingkat perguruan tinggi, dengan perbandingan jenis kelamin 890 jiwa perempuan dan 2.070 jiwa laki – laki.
3.   Desa Surbakti
      Nama Kepala Desa : Jasa Surbakti, terdiri dari 5 ( lima ) dusun, luas daerah Desa Surbakti adalah 9,57 Km dengan jumlah penduduk 2.167 jiwa dimana perbandingannya 1.003 jiwa laki – laki dan 1.164 jiwa perempuan yang terdiri dari 689 KK. Adapun mata pencaharian penduduknya terdiri dari 684 KK atau 94% adalah bertani dan sebanyak 41 KK atau 6 %nya bergerak disektor non pertanian. Sementara tingkat pendidikan di Desa Surbakti adalah 112 jiwa tidak bersekolah, 90 jiwa tamat SD sederajat, 170 jiwa tamat SLTP sederajat, 160 jiwa SLTA sederajat dan 52 jiwa tingkat perguruan tinggi. 

I. Hasil Penelitian.

Dari hasil penelitian tentang Opini Publik Mengenai Peran   Media Lokal  Dalam Pembangunan  Bidang Pertanian Hortikultura  terlihat bahwa masyarakat Karo, khususnya di lokasi yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini masih menggunakan media massa cetak khusus media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. Asumsi ini terlihat seperti yang tertera dalam tabel  penulisan laporan ini. Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura, dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi.
J.  Pembahasan Hasil Penelitian

Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Utara yang mengandalkan pendapatan masyarakatnya dari sektor pertanian. Dengan kata lain mayoritas Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang dihasilkan dari sektor pertanian yang menghasilkan produk – produk pertanian berbasis agrobisnis.
Produk – produk andalan pertanian Kabupaten Karo ini adalah bermacam sayuran, buah – buah dan juga bunga – bungaan. Begitu dominannya sektor pertanian yang dikelola daerah ini sehingga sampai saat ini kontribusi yang diberikan atas pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) hingga mencapai 60 persen. Memang ada sektor pariwisata yang juga menjadi andalan bagi Pemerintah Kabupaten Karo, namun hingga kini sektor pariwisata belum juga mampu menggantikan peran sektor pertanian yang telah begitu dominan.
Berbagai upaya terus dilakukan untuk tetap mempertahankan dan sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian ini. Salah satu diantaranya adalah upaya untuk terus memelihara pasar regional dengan mengundang pengusaha – pengusaha dari Singapore dan Malaysia yang tergabung dalam Agri-Food And Veterinery Autority Of Singapore     ( AVA ). Kedatangan para pengusaha Singapore ini ke Sumatera Utara bertujuan untuk melihat secara langsung proses produksi sayur – sayuran langsung ke tempat produksi sekaligus sebagai upaya penjajakan atas peningkatan kerjasama yang telah ada selama ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan sayur – sayuran di negeri Singapur tersebut.
Sebagaimana kita ketahui Negara Singapore  sangat mengandalkan pasokan sayur dan buah untuk dikonsumsi dari negara – negara tetangganya. 95 persen pasokan sayur dan buah berasal dari negara negara seperti Thailand, China, Malaysia, Jepang, Australia dan Indonesia. Dan tentu saja kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Pemerintah Kabupaten Karo harus tetap konsisten didalam pengembangan kegiatan agrobisnis tersebut. Keberadaan sumber daya manusia dalam hal ini petani juga harus selalu mengup-grade pengetahuannya didalam hal pengolahan pertanian untuk meningkatkan produksi, yang pada akhirnya berimbas kepada peningkatan kesejahteraan petani tersebut.
Berbagai upaya dilakukan para petani didalam meningkatkan pengetahuannya dalam mengolah pertanian. Pemerintah Kabupaten Karo sendiri melalui Dinas Pertanian setempat selalu mengirimkan petugas – petugas penyuluh pertanian untuk membimbing para petani didalam melakukan aktivitas pertanian. Namun upaya untuk mencari sendiri informasi tambahan yang paling terbaru juga perlu dilakukan, karena inovasi – inovasi yang terus berkembang terkadang tidak didapatkan dari sumber informasi seperti penyuluh pertanian. Salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan para petani di Kabupaten Karo dewasa ini adalah didalam membudidayakan tanaman – tanam bersifat organik. Jenis tanaman yang akhir – akhir ini sangat populer karena produk organik ini terhindar dari bahan – bahan kimia yang tidak bagus buat kesehatan, dan jenis organik seperti ini sangat digemari oleh konsumen di negara – negara Singapore dan Malaysia.  Informasi  seperti inilah yang sangat diperlukan oleh masyarakat petani, termasuk didalamnya peluang bisnis pemasaran serta proses pasca panennya. Penggunaan teknologi tinggi  didalam meningkatkan produksi pertanian juga perlu diketahui, serta langkah – langkah strategis lain yang pada intinya adalah bagaimana melaksanakan kegiatan pertanian yang efektif, cerdas dan mempunyai output yang besar. Solusi cerdas yang dipilih masyarakat petani dalam mencari informasi terbaru adalah melalui media massa yang ada di daerah, utamanya media massa lokal.



Tabel 1
Frekuensi Membaca Media Cetak Lokal
Media
Desa Ndokum Siroga
Media
Desa Surbakti
Sering
Jarang
Tdk Pernah
Total
Sering
Jarang
Tidak Pernah
Total
Sibayak
 Pos
F
16
19
10
5
Sibayak
 Pos
F
16
9
20
45
%
35,6
42,2
22,2
100
%
35,6
20,0
44,4
100
Sora
Mido
F
6
18
21
45
Sora
Mido
F
11
11
23
45
%
13,3
40,0
46,7
100
%
24,4
24,4
51,1
100
Sora
 Sirulo
F
9
4
22
45
Sora
 Sirulo
F
12
10
23
45
%
20,0
31,1
48,9
100
%
26,7
22,2
51,1
100
Info
 Karo
F
12
7
26
45
Info
 Karo
F
-
-
-
-
%
26,7
15,6
57,8
100
%
-
-
-
-
Karo
Memba   ngun
F
17
9
19
45
Karo
Memba ngun
F
7
10
28
45
%
37,8
20
42,2
100
%
15,6
22,2
62,2
100

Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura, dimana  pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi.

Tabel 2
Tingkat Kepentingan Media Cetak Dalam Membantu Usaha Pertanian
Desa
Tingkat Kepentingan Media Cetak

Total
Sangat penting
Penting
Tidak penting
Ndokum Siroga
F
20
25
-
45
%
44.4
55.6
-
100
Surbakti
F
18
27
-
45
%
40.0
60.0
-
100

Pada tingkat kepentingan responden terhadap media cetak lokal dalam membantu usaha pertanian, terlihat bahwa responden di Desa Ndokum Siroga dengan persentase sebesar 44,4% menganggap media cetak lokal sangat penting dalam membantu usaha pertanian mereka karena selain kurangnya keberagaman  pilihan media  yang ada, media lokallah yang paling tahu kebutuhan para petani ,  sedangkan untuk pertanyaan yang sama di Desa Surbakti persentasenya sebesar 40%, responden lainnya menjawab penting sebesar 55,6% didesa Ndokum Siroga dan 27% di Desa Surbakti. Tidak ada responden yang menjawab tidak penting untuk materi pertanyaan ini.
Tabel 3
Pengaruh Membaca Media Cetak Terhadap Responden
Desa
Pengaruh Membaca Media Cetak

Total
Sangat
Berpengaruh
Berpengaruh
Tidak Berpengaruh
Ndokum Siroga
F
14
31
-
45
%
31.1
68.9
-
100
Surbakti
F
17
28
-
45
%
37.8
62.2
-
100

Anggapan bahwa media cetak berpengaruh terhadap responden terlihat seperti tabel diatas, dimana 37,8% responden didesa Surbakti menjawab media tersebut sangat berpengaruh terhadap responden karena dari medialah petani mengetahui  informasi  pertanian sehingga hasil pertanian mereka meningkat , juga tentang pemasaran hasil - pertanian, sedangkan di Desa Ndokum Siroga 31,1 % responden yang menjawab sangat berpengaruh, namun 68,9% responden di desa Ndokum Siroga menjawab berpengaruh, sedangkan di Desa Surbakti yang memberi jawaban berpengaruh adalah sebesar 62,2 %.

Tabel 4
Pengaruh Media Cetak Terhadap Perubahan Nyata
Desa
Pengaruh Terhadap Perubahan Nyata

Total
Sangat positif
Positif
Kurang positif
Ndokum Siroga
F
10
35
-
45
%
22.2
77.8
-
100
Surbakti
F
10
35
-
45
%
22.2
77.8
-
100
Untuk materi pertanyaan tentang pengaruh media cetak terhadap perubahan nyata responden didua desa tersebut, terlihat sesuatu yang unik, dimana masing masing responden di dua desa tersebut menjawab bahwa media cetak memberikan perubahan yang positif bagi responden karena  dengan persentase 77,8%, bahkan 22,2% responden pada masing – masing desa menjawab bahwa pengaruh media cetak terhadap perubahan yang nyata menjawab sangat positif

Tabel 5
Dampak Media Cetak Terhadap Peningkatan  Hasil Pertanian
Desa
Dampak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian

Total
Sering
Kadang-kadang
Tidak ada
Ndokum Siroga
F
13
30
2
45
%
28.9
66.7
4.4
100
Surbakti
F
7
36
2
45
%
16.6
80.0
4.4
100

Dari tabel diatas, terlihat bahwa media cetak tidak selalu memberikan peningkatan terhadap hasil pertanian. 80% responden di Desa Surbakti menjawab bahwa media cetak hanya kadang – kadang memberi peningkatan terhadap hasil pertanian, sedangkan didesa Ndokum Siroga sebesar 66,7%. Namun responden yang menjawab bahwa informasi media cetak tersebut sering memberi peningkatan hasil pertanian juga ada, dimana 28,9% responden di Desa Ndokum Siroga, dan 16,6% di Desa Surbakti, bahkan ada 4,4% responden di masing – masing desa menjawab tidak ada dampak media cetak terhadap peningkatan hasil pertanian
Tabel 6
Media Massa Dimaksud Adalah Media Cetak Lokal
Desa
Media tersebut adalah media cetak lokal

Total
Setuju
Kurang setuju
Tidak setuju
Ndokum Siroga
F
26
11
8
45
%
57.8
24.4
17.8
100
Surbakti
F
29
8
8
45
%
64.4
17.8
17.8
100

Dari mayoritas media massa sebagai sumber informasi pembangunan , 64,4% responden di desa Surbakti menjawab bahwa media dimaksud adalah media cetak lokal, 57,8% responden di desa Ndokum Siroga memberi jawaban senada, namun ada juga yang kurang setuju dengan hal tersebut, dimana 24,4% responden di desa Ndokum Siroga tidak setuju dengan jawaban tersebut dan 17,8% responden di desa Surbakti memberi jawaban senada, bahkan masing – masing responden didua desa tersebut ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan nilai 17,8%


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Beberapa point penting yang didapat dari penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan  Bidang Pertanian Hortikultura yang dilakukan oleh Tim BPPI Wilayah I Medan di Kabupaten Karo, Kecamatan Simpang Empat, tepatnya didesa Ndokum Siroga dan desa Surbakti adalah sebagai berikut :
1.      Masyarakat Kabupaten Karo ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan  bidang pertanian hortikultura, terutama didesa Surbakti antusias masyarakat tentang media lokal masih tinggi. Ini mungkin disebabkan masih kurang beragamnya pilihan media yang ada di desa tersebut, dibandingkan dengan desa Ndokum Siroga yang ada di pusat kecamatan. Namun antusiasme ini terkendala oleh media cetak lokal yang masih sulit didapat didesa – desa terutama desa yang  masuk kepedalaman.
2.      Ternyata keberadaan media massa cetak masih  sangat diharapkan oleh masyarakat dapat mendorong suksesnya pembangunan bidang pertanian hortikultura, apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pasar produk pertanian dan informasi tentang budidaya pertanian hortikultura. Dan peran inilah yang diharapkan masyarakat dapat ditangkap dan diisi oleh media massa lokal. Apalagi petani juga masih belum merasa cukup tentang informasi pertanian dari penyuluh pertanian yang belum rutin dan intens didesa Surbakti
3.      Kendala yang dihadapi masyarakat tentang pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa adalah kurangnya informasi pertanian hortikultura, juga masih belum mencukupinya isi berita tentang peluang pasar domestik maupun luar negeri. Disamping itu sirkulasi atau keterlambatan terbit media lokal juga menjadi kendala informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa, karena media lokal umumnya terbit per satu bulan sekali.

Saran

a.   Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib petani hortikultura di Kabupaten Karo, apalagi mengingat bahwa Sumatera Utara termasuk daerah potensial bagi pengembangan tanaman hortikultura, disamping itu dari sisi pangsa pasar wilayah ini berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang membutuhkan hasil pertanian dari Sumatera Utara
a.       Pemerintah Daerah harus berupaya dengan segala cara dan lebih maksimal untuk mengontrol keberadaan dan harga pupuk dan obat–obatan yang dibutuhkan masyarakat dalam kegiatan pertaniannya, serta mengawasi/menghilangkan peredaran pupuk dan obat – obatan palsu yang belakangan ini beredar dikalangan masyarakat petani
b.      Pemerintah Daerah diharapkan untuk mengembalikan ikon Tanah Karo dengan kembali membudidayakan jeruk yang selama ini dikenal sebagai primadona daerah ini, dan telah menembus pangsa pasar dunia
c.        Perlu adanya penanganan pengelolaan hasil pasca panen
d.      Sirkulasi media lokal lebih ditingkatkan baik dari segi mutu (kuantitas dan kualitas), dan bila memungkinkan program koran masuk desa dihidupkan kembali , dimana isi koran tersebut diharapkan memiliki muatan lokal yang memuat informasi mengenai tata cara dan budaya pengelolaan tanaman hortikultura secara tepat dan efisien.

Daftar Pustaka

Effendy, Onong., 1981, Dimensi – Dimensi Komunikasi, Alumni Bandung
Hardiman, Ima. 2006, 400 Istilah PR Media & Periklanan, Gagas Ulung, Jakarta
Kriyanto, Rachmat. 2006, Teknik Prakis Riset Komunikasi, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta
Lippmann, Walter. 1998, Opini Umum, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
McQuail, Denis. 1994, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta.
Paramita, Pradya. 1984. Leksikon Komunikasi, Jakarta
Rakhmat, Jalaluddin. 1998, Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung
Rakhmat, Jalaluddin. 2004, Metode Penelitian Komunikasi, Rusdakarya, Bandung
Severin, Werner dan Tankard James. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan Didalam Media Massa, Prenada Media, Jakarta
Su’ud, Hasan. 2007, Pengantar Ilmu Pertanian, Yayasan Pena, Banda Aceh

Sumber lain
http://www.suarapembaruan.com/new/2006/06/21/editor/edi07.html
http://www.pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html

Artikel Terkait:

0 Responses to "OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA"

Poskan Komentar